Selasa, 07 Oktober 2014
Be A Driver, Don’t Be A Passenger!
Jika kita berkunjung ke danau Maninjau, salah satu rute paling indah adalah Kelok Ampek Puluah Ampek. Selain paling indah, juga yang paling sulit bagi para pengemudi dan berbahaya bagi para penumpang.Tapi dari rute ini kita bisa belajar mengenai perubahan.
Banyak perusahaan yang jatuh karena tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. CEO sebagai driver harus jeli mengemudikan perusahaannya agar sampai ke tujuan atau visi. Sebut saja Garuda Indonesia, maskapai plat merah ini sempat beberapa kali jatuh bangun, bahkan pernah dilarang terbang ke Eropa.
Berbagai sistem kemudian dirombak, pelayanan pada pelanggan ditingkatkan dan daya saing perusahaan digeber. Adalah tangan Emirsyah Satar (55), pria asli Minangkabau yang menjadi good driver di perusahaan ini. Hari ini Garuda Indonesia telah diakui dunia dan bergabung bersama Skyteam, salah satu aliansi penerbangan terbaik dan banyak prestasi lainnya.
Tentu banyak hambatan selama proses transformasi. Mulai dari jalanan terjal dan berliku, lubang yang menganga bahkan umpatan dari penumpang sendiri. Butuh kejelian dalam menjalaninya.Sama seperti melintasi Kelok Ampek Puluah Ampek. Perubahan di Garuda Indonesia, saya ibaratkan sebuah mobil yang melintas di jalanan ini.
Self-driving
Setiap manusia dianugerahkan kendaraan oleh Tuhan yaitu dirinya sendiri (self). Kita sendiri pulalah yang menentukan seperti apa kendaraan itu serta kemana arahnya (self-driving). Ini adalah sikap mental yang membedakan apakah orang itu paham betul falsafah ‘di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,’ dengan mereka yang tidak.
Emirsyah Satar adalah salah satu contohnya, seorang good driver yang memiliki daya dobrak. Bukan berarti tanpa hambatan, Emir pernah didemo oleh karyawannya sendiri namun justru berakhir manis ketika visi untuk bangkit itu disampaikan dari hati ke hati. Semua pihak justru ingin ikut terlibat dalam pesta perubahan.
Sebulan belakangan tak henti-hentinya saya menyampaikan tentang self-driving ke berbagai penjuru Nusantara. Baik di depan para eksekutif, pendidik, anak muda dan juga para orangtua. Ini adalah pemahaman yang diaplikasikan untuk mengasah inisiatif, kreativitas dan daya dobrak seseorang.
Kita diberi kemampuan untuk memecahkan masalah yang tanpa kita sadari jarang sekali kita gunakan. Zona nyaman dan keteraturan membuat kita seperti burung dara yang dijahit sayapnya; tak bisa terbang tinggi. Saya menyebutnya sebagai passengers. Hanya duduk tanpa mempedulikan risiko, boleh tertidur dan tidak harus tahu jalan. Standar yang dimiliki rendah sementara potensi kita adalah membelah langit bak seekor rajawali.
Anak-anak jangan dikekang
Saya dekat dengan dua pemuda asli Minangkabau, keduanya adalah mahasiswa saya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI). Mereka adalah Jombang Santani Khairen (@JS_Khairen) dan Muhammad Alfatih Timur (@AlfatihTimur).
Akademik mereka cukup baik dan setelah lulus, mereka berdiskusi dengan saya menanyakan baiknya kerja di bidang dan perusahaan apa. Di tengah diskusi saya kaget, ternyata mereka memiliki kombinasi bakat, skil manajerial dan jiwa sosial yang bisa tenggelam apabila tidak disalurkan di tempat yang benar.
Alfatih misalnya, hari ini dia dan sahabat-sahabatnya berhasil mengembangkan sebuah situs social crowdfunding terbesar di Indonesia, kitabisa.co.id. Situs ini bisa adalah wadah untuk menghubungkan kebaikan bagi mereka yang ingin menyumbangkan waktu, mater, tenaga serta pikiran.
Tak seperti rekan-rekannya sesama kuliah yang memilih jalan populis untuk bekerja di perusahaan besar, Timmy, begitu saya memanggilnya, justru berkecimpung di dunia sosial. Hasil kerja kerasnya, diapresiasi tidak hanya di dalam negeri bahkan juga di luar negeri. Beberapa waktu lalu ia berhasil memenangkan sebuah kompetisi di Singapura. Penghujung tahun ini, Timmy akan bertolak ke Amerika Serikat untuk mempresentasikan buah karyanya.
Kemudian Jombang, anak ini memiliki panca indera yang tajam. Ia mampu melihat hal-hal yang tidak terlalu diperhatikan orang lain. Kreativitas yang ia miliki telah membawa namanya bergabung bersama deretan penulis handal Indonesia. Dalam kurun waktu 5 bulan, Jombang telah menerbitkan 2 novel lewat penerbit Gramedia. Novelnya pun dibaca dan diberi komentar oleh orang-orang hebat seperti Jokowi, Jusuf Kalla, Anies Baswedan, Dian Sastro, Riri Riza dan sederetan nama lainnya.
Mereka memiliki daya dobrak dan mental good driver. Di awal-awal, sering kali saya mendengar curhatan mereka bahwa orangtua tidak terlalu sepakat dengan jalan yang kini mereka tempuh. Namun hari ini, orangtua mereka selayaknya berbangga. Mereka berhasil keluar dari perangkap passenger.
Mari kita renungkan, apakah kita sudah mendidik anak-anak kita menjadi good driver? Kita bermimpi mereka bisa menjadi pemimpin hebat, namun ini akan sulit jika semenjak kecil sudah kita kekang dengan kata ‘tidak boleh’ dan ‘jangan.’ Kita takut anak kita mencoba hal-hal baru.
Cobalah lihat mereka yang juara di kelas kebanyakan adalah anak yang penurut dan lancar menyalin isi buku ke kertas.Tanpa disadari kita telah membentuk mereka berdasarkan keinginan kita, bukan berdasarkan potensi mereka.
Jadilah ketika lulus dari universitas, mereka hanya menjadi sarjana kertas, hanya pandai memindahkan isi buku ke kertas. Ilmu mereka tidak pindah ke seluruh tubuh dan hanya tersimpan di otak. Tidak tangkas dan sering kebingungan ketika menghadapi tantangan nyata di dunia kerja.
Anak-anak hari ini, hidup dengan suplai gizi, fasilitas serta akses pendidikan yang lebih baik. Creative dan critical thinking mereka dibentuk setiap waktu dari segala arah. Sungguh tidak bijak jika membiarkan para calon pemimpin ini terjebak dalam perangkap passenger.Sudah saatnya kita membuka mata dan memberikan kesempatan yang lebih luas tanpa memerangkap mereka.
Dari kecil mereka kita bedong, kita papah, dan kita tuntun. Jadilah mereka generasi yang ikut-ikut saja kata orangtua dan guru seperti burung dara yang dijahit sayapnya. Sekarang saatnya biarkan mereka menjadi rajawali. Be a driver, don’t be a passenger!
RHENALD KASALI
Pentingnya Presentasi
Apapun profesi kita, kemampuan membuat presentasi akan sangat berguna bagi karir kita, Seringkali momen presentasi adalah momen sekali seumur hidup: Presentasi sukses = pemenang
Presentasi gagal = pecundang. Begitu pentingnya momen presentasi ini hingga ada yang bisa mengubah nasibnya 180 derajat dalam satu presentasi.
Mengingat pentingnya presentasi ini maka kami sarankan teman-teman untuk mempersiapkan presentasinya sebaik mungkin. Sayangnya sangat sedikit diantara kita yang mampu membuat "presentasi yang meyakinkan", apalagi presentasi berkelas dunia.
Kita tahu Bill Gates dan Steve Jobs adalah jagonya membuat presentasi yang memukau. Sesungguhnya presentasilah kunci sukses mereka. Presentasi Bill Gates dihadapan petinggi-petinggi IBM adalah presentasi tersukses dunia. Bayangkan, Bill Gates bisa meyakinkan petinggi-petinggi IBM untuk menggunakan sistem operasi DOS-nya yang tidak dia miliki itu. Dan sejarah mencatat bahwa dari presentasi itulah dia kemudian berhasil menjadi orang terkaya di dunia.
Jadi, segala ketekunan, segala talenta, segala pengorbanan dan jerih payah tidak akan bernilai apapun saat presentasi kita jeblok. Namun sebaliknya, tanpa memiliki apapun kita bisa mengubah nasib diri bahkan nasib dunia hanya dengan suatu presentasi yang sukses.
Seorang yang hanya bermodal ide bisa mewujudkan mimpinya memiliki usaha sendiri jika sukses mempresentasikan idenya dihadapan para investor. Seorang karyawan bisa melesat karirnya ketika presentasi gagasannya bisa diterima pimpinan perusahaan. Bahkan seorang pencari kerja bisa dengan mudahnya diterima manakala dia sukses mempresentasikan dirinya pada perusahaan tempatnya melamar.
Seorang guru yang pandai membuat presentasi yang memukau tentulah akan menjadi guru yang sangat memukau pelajarannya. Seorang tenaga marketing yang bisa membuat presentasi yang mengunci closing tentulah menjadi marketing yang sangat sukses.
Mengingat demikian pentingnya presentasi, lantas mengapa kita tidak belajar membuat presentasi yang berkelas dunia? Kita seringkali menganggap sudah cukup bisa membuat presentasi dengan modal tool-tool dasar Microsoft Power Point. Padahal untuk bisa membuat presentasi berkelas dunia kita perlu lebih dari sekedar itu. Segala sesuatu memerlukan pemahaman detail.
Saya sendiri dulu sempat menganggap cukuplah punya dasar-dasar membuat presentasi biasa saja. Ternyata itu salah besar. Setelah belajar di workshopnya Dhony Firmansyah barulah saya menyadari betapa tidak memadainya kemampuan saya tersebut. Dan setelah belajar cara membuat presentasi berkelas dunia itulah saya merasakan bedanya.
Bisnispun berkembang, tak ada lagi penolakan-penolakan dari klien. Semua berkat presentasi yang memukau dan mampu memaksa audience untuk setuju. Kita tidak tahu keajaiban apa yang akan kita dapatkan dari kemampuan membuat presentasi yang profesional itu. Namun yang bisa dipastikan adalah kemampuan membuat presentasi yang profesional akan sangat bermanfaat bagi profesi kita, apapun itu. Silahkan mengubah masa depan masing-masing dengan kemampuan membuat presentasi yang luar biasa.
Manfaat Makanan Bersifat Basa
Ada banyak cara untuk menggolongkan makanan. Salah satunya adalah berdasarkan sifat keasaman dan kebasaan yang terkandung oleh makanan. Makanan kita dicerna di dalam dua bagian saluran pencernaan. Pertama makanan itu masuk ke lambung dimana asam hidroklorida (HCl) di saluran lambung melakukan pekerjaan utama jika makanan itu utamanya bersifat asam. Dari sana makanan itu kemudian menuju duodenum (usus 12 jari). Di sini sekresi carian bersifat basa dari hati, pankreas, dan limfe menyelesaikan proses pencernaan dan membantu menetralisir cairan apapun dari lambung yang bersifat asam. Makanan yang dicerna terutama di lambung disebut makanan bersifat asam, sedangkan yang dicerna terutama di usus 12 jari disebut makanan bersifat basa. Sebagian besar makanan membutuhkan sebagian pencernaan asam dan sebagian pencernaan basa.
Keasaman memiliki andil dalam berbagai penyakit yang umum saat ini, seperti rematik, artritis, encok, radang, kanker, osteoporosis, diabeter, dan penyakit jantung. Keasaman menyebabkan organ-organ pembersih/pemurni darah seperti hati, limfe, dan ginjal menjadi lemah. Pasien yang sakit dapat lebih cepat pulih dari penyakitnya jika sebagian besar makanan mereka bersifat basa (dengan perbandingan 80:20). Umumnya lidah menginginkan makanan yang bersifat asam karena rasanya enak, sedangkan organ-organ pencernaan lebih menyukai makanan basa. Harus diingat bahwa penggolongan makanan ke dalam asam dan basa tidak berdasarkan “rasa” makanan itu dilidah. Misalnya, air jeruk nipis rasanya asam dimulut namun hasil akhirnya setelah dicerna bersifat basa karena air jeruk nipis tidak memerlukan cairan asam lambung untuk menguraikannya.
Beberapa contoh makanan yang bersifat sangat basa :
Air, air jeruk nipis, air kelapa, teh herbal, madu, jus buah-buahan, jus sayur-sayuran, buah, sayuran berwarna hijau dan kuning yang tidak mengandung zat tepung/pati, sayuran berumbi (wortel, lobak cina, bit, dan singkong).
Beberapa contoh makanan yang bersifat sangat asam :
Telur, Daging, ikan, makanan laut, unggas, makanan gorengan, biji-bijian yang diputihkan (beras putih, roti putih/terigu, mie putih), makanan olahan, gula putih, teh, kopi, dan minuman berkarbonasi.
[Sumber: Buku Diet for Health & higher Conciousness]
Keasaman memiliki andil dalam berbagai penyakit yang umum saat ini, seperti rematik, artritis, encok, radang, kanker, osteoporosis, diabeter, dan penyakit jantung. Keasaman menyebabkan organ-organ pembersih/pemurni darah seperti hati, limfe, dan ginjal menjadi lemah. Pasien yang sakit dapat lebih cepat pulih dari penyakitnya jika sebagian besar makanan mereka bersifat basa (dengan perbandingan 80:20). Umumnya lidah menginginkan makanan yang bersifat asam karena rasanya enak, sedangkan organ-organ pencernaan lebih menyukai makanan basa. Harus diingat bahwa penggolongan makanan ke dalam asam dan basa tidak berdasarkan “rasa” makanan itu dilidah. Misalnya, air jeruk nipis rasanya asam dimulut namun hasil akhirnya setelah dicerna bersifat basa karena air jeruk nipis tidak memerlukan cairan asam lambung untuk menguraikannya.
Beberapa contoh makanan yang bersifat sangat basa :
Air, air jeruk nipis, air kelapa, teh herbal, madu, jus buah-buahan, jus sayur-sayuran, buah, sayuran berwarna hijau dan kuning yang tidak mengandung zat tepung/pati, sayuran berumbi (wortel, lobak cina, bit, dan singkong).
Beberapa contoh makanan yang bersifat sangat asam :
Telur, Daging, ikan, makanan laut, unggas, makanan gorengan, biji-bijian yang diputihkan (beras putih, roti putih/terigu, mie putih), makanan olahan, gula putih, teh, kopi, dan minuman berkarbonasi.
[Sumber: Buku Diet for Health & higher Conciousness]
Jumat, 22 Agustus 2014
"Din" Islam : Antara Agama dan Spiritualitas
Uraian ringkas untuk menunjukkan bahwa agama tak pernah bisa dilepaskan dari spiritualitas. Tanpa spiritualitas agama tak punya makna, malah bisa jadi bencana. “Religion is a guy in church thinking about fishing. Spirituality is a guy out fishing thinking about God." John Fischer. J
Jika agama hanya institusi legal-politik formal. "Din" dalam Islam justru mulai dari perjanjian primordial (ruh) manusia dengan Tuhan. Saat manusia masih di alam prakelahiran, Allah mengajari:"'Bukankah Aku Rabb (Sumber dan Pemelihara-hidup) mu?' Kata mereka: 'Benar!'" (QS 7:172).
"Saat sempurna sudah penciptaan fisik manusia, Kutiupkan ke dalamnya bagian RuhKu" (QS 38:72). Inilah esensi kemanusiaannya: makhluk ruhani.
"Hadapkan wajahmu lurus-lurus kepada 'din',' fitrah Allah yang atasnya manusia diciptakan.." (30:30) "Din" = fitrahNya = CelupanNya (2:13) = Unsur ruh ilahi.
"Daging (kurban) tak se-kali2 sampai kepadaNya, ketakwaan yang sampai" (22:37). Yang bermakna hanya kesadaran keilahian yang ruhani, bukan sekadar ritus.
"Din" dalam ayat-ayat lain selalu dikaitkan dengan keterikatan (penghambaan) manusia (109:8) dengan dan kesetiaannya (kepasrahan) kepada Allah Yang Esa (3:19).
"Sebenarnya bukan mata itu yang buta. Yang buta adalah hati yang di dalam dada"(QS 22:46). Hati, lokus ruh, adalah dasar hubungan manusia dengan Yang Ilahi.
"Berkata Arab badui:'Kami beriman' ... Katakanlah: 'Kami telah tunduk', karena iman belum masuk ke dalam hatimu."
Beragama, menurut Islam, adalah urusan hati, ruhani. Betapa pun terkait etika, hukum, politik dan soal2 profan lainnya, puncaknya selalu ruhani. Agama tak pernah bisa dilepaskan dari keruhaniahan (spiritualitas). Agama tanpa spiritualitas bukanlah agama, hanya simbol-simbol tanpa makna. Gambar pohon bukanlah pohon. Artificial intelligence, secanggih apa pun, bukanlah manusia - beragama mesti libatkan khusyuk, kehadiran hati.
Tak sedikit orang yang beragama, tapi tak sampai ke dalam hati. Kata Nabi:"... di antara umatku ada yang membaca al-Quran tapi bacaan mereka tak sampai melewati tenggorokan. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya" (HR Muslim).
Mereka hanya tunduk kepadaNya seperti budak, yang bertindak cuma oleh ketundukan dan ketakutan, tanpa keterpesonaan dan keintiman. Islam hukum, tanpa cinta.
Menurut salah satu bagian hadis riwayat Muslim di atas: "... mereka membunuh sesama Muslim dan membiarkan para penyembah berhala (materialisme)."
Allah, selain Kebenaran dan Keadilan (Al-Haq/Al-'Adl) adalah Kebaikan dan Keindahan (Al-Khayr/Al-Jamal). Bahkan yang belakangan menaklukkan yang terdahulu.
Pun demikian akhlak Nabi. Juga ciri utama ajaran Islam. Puncak semuanya adalah akhlak cinta, kasih-sayang dan keindahan. Semuanya urusan ruhani.
Tak ada jalan lain, spiritualitas harus dikembalikan kepada agama, thariqah kepada syariah, batin kepada lahir, dan cinta kepada ketundukan ...
Jika agama hanya institusi legal-politik formal. "Din" dalam Islam justru mulai dari perjanjian primordial (ruh) manusia dengan Tuhan. Saat manusia masih di alam prakelahiran, Allah mengajari:"'Bukankah Aku Rabb (Sumber dan Pemelihara-hidup) mu?' Kata mereka: 'Benar!'" (QS 7:172).
"Saat sempurna sudah penciptaan fisik manusia, Kutiupkan ke dalamnya bagian RuhKu" (QS 38:72). Inilah esensi kemanusiaannya: makhluk ruhani.
"Hadapkan wajahmu lurus-lurus kepada 'din',' fitrah Allah yang atasnya manusia diciptakan.." (30:30) "Din" = fitrahNya = CelupanNya (2:13) = Unsur ruh ilahi.
"Daging (kurban) tak se-kali2 sampai kepadaNya, ketakwaan yang sampai" (22:37). Yang bermakna hanya kesadaran keilahian yang ruhani, bukan sekadar ritus.
"Din" dalam ayat-ayat lain selalu dikaitkan dengan keterikatan (penghambaan) manusia (109:8) dengan dan kesetiaannya (kepasrahan) kepada Allah Yang Esa (3:19).
"Sebenarnya bukan mata itu yang buta. Yang buta adalah hati yang di dalam dada"(QS 22:46). Hati, lokus ruh, adalah dasar hubungan manusia dengan Yang Ilahi.
"Berkata Arab badui:'Kami beriman' ... Katakanlah: 'Kami telah tunduk', karena iman belum masuk ke dalam hatimu."
Beragama, menurut Islam, adalah urusan hati, ruhani. Betapa pun terkait etika, hukum, politik dan soal2 profan lainnya, puncaknya selalu ruhani. Agama tak pernah bisa dilepaskan dari keruhaniahan (spiritualitas). Agama tanpa spiritualitas bukanlah agama, hanya simbol-simbol tanpa makna. Gambar pohon bukanlah pohon. Artificial intelligence, secanggih apa pun, bukanlah manusia - beragama mesti libatkan khusyuk, kehadiran hati.
Tak sedikit orang yang beragama, tapi tak sampai ke dalam hati. Kata Nabi:"... di antara umatku ada yang membaca al-Quran tapi bacaan mereka tak sampai melewati tenggorokan. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya" (HR Muslim).
Mereka hanya tunduk kepadaNya seperti budak, yang bertindak cuma oleh ketundukan dan ketakutan, tanpa keterpesonaan dan keintiman. Islam hukum, tanpa cinta.
Menurut salah satu bagian hadis riwayat Muslim di atas: "... mereka membunuh sesama Muslim dan membiarkan para penyembah berhala (materialisme)."
Allah, selain Kebenaran dan Keadilan (Al-Haq/Al-'Adl) adalah Kebaikan dan Keindahan (Al-Khayr/Al-Jamal). Bahkan yang belakangan menaklukkan yang terdahulu.
Pun demikian akhlak Nabi. Juga ciri utama ajaran Islam. Puncak semuanya adalah akhlak cinta, kasih-sayang dan keindahan. Semuanya urusan ruhani.
Tak ada jalan lain, spiritualitas harus dikembalikan kepada agama, thariqah kepada syariah, batin kepada lahir, dan cinta kepada ketundukan ...
Akhlak, Kunci Dakwah Islam di Nusantara
Uraian ringkas tentang akhlak sebagai puncak keberagamaan serta penerapannya dalam dakwqah damai dan kultural pendai Islam awal di Nusantara.
Islam terbagi dalam akidah, syariah dan akhlak. Dua yang pertama harus terwujud dalam yang ke-3. Tiada iman, dan tak efektif hukum, tanpa moralitas, Jangan hanya ngotot soal akidah, atau terobsesi penegakan syariah, tapi mengabaikan akhlak. "Agama itu akhlak," kata Nabi. Tanpa pembinaan akhlak, semangat keagamaan justru bisa jadi kekuatan destruktif mengerikan. Mari mahkotai dakwah Islam dengan pembinaan akhlak.
Meski stiap orang bebas punya aspirasi politik, mari kita selalu ingat, politik dan hukum hanya sarana. Rahmat (kasih-sayang) adalah tujuannya. Beragama awalnya ketundukan (islam), tengahnya pencarian keyakinan (iman), puncaknya akhlak mulia (ihsan). Mari luruskan prioritas kita. Tunduk adalah soal kegentaran/ketakjuban, lebih bersifat emosional, baru pencarian intelektual. Yang paling beriman adalah yang palng berakal. Tiada ibadah - shalat, puasa, zakat, haji - yang tak ditujukan untuk bina akhlak. Pun, "Mukmin tersempurna adalah yang terbaik akhlaknya," kata Nabi.
Kalau bukan karna akhlak para da'inya, tak mungkin masyarakat se-Nusantara menerima Islam dengan damai. Akankah halnya sama kalau mereka kasar dan keras hati? Percaya/tidak pada keberadaan Walisongo, da'i-da’i pembawa Islam ke Nusantara adalah kaum sufi. Merekalah pembawa obor ihsan, penyandang pekerti tinggi. Para da'i itu menyelaraskan apa yang bisa diselaraskan dengan budaya lokal, karena keyakinan bahwa budaya tak lain adalah percikan tajalliNya juga.
Mereka pun percaya, budaya yang tak menentang prinsip-prinsip agama boleh jadi adalah peninggalan para Nabi yang, menurut hadis, jumlahnya tak kurang dari 124.000. "Bagi setiap umat seorang Rasul" - (QS 10:47). Karena itu, tradisi bisa sama sakralnya karena mungkin saja itu adalah warisan salah seorang rasul. Bagaimana membedakan tradisi warisan nabi dan yang bukan? Apabila tak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama dan mengandung nilai-nilai kebaikan.
Islam terbagi dalam akidah, syariah dan akhlak. Dua yang pertama harus terwujud dalam yang ke-3. Tiada iman, dan tak efektif hukum, tanpa moralitas, Jangan hanya ngotot soal akidah, atau terobsesi penegakan syariah, tapi mengabaikan akhlak. "Agama itu akhlak," kata Nabi. Tanpa pembinaan akhlak, semangat keagamaan justru bisa jadi kekuatan destruktif mengerikan. Mari mahkotai dakwah Islam dengan pembinaan akhlak.
Meski stiap orang bebas punya aspirasi politik, mari kita selalu ingat, politik dan hukum hanya sarana. Rahmat (kasih-sayang) adalah tujuannya. Beragama awalnya ketundukan (islam), tengahnya pencarian keyakinan (iman), puncaknya akhlak mulia (ihsan). Mari luruskan prioritas kita. Tunduk adalah soal kegentaran/ketakjuban, lebih bersifat emosional, baru pencarian intelektual. Yang paling beriman adalah yang palng berakal. Tiada ibadah - shalat, puasa, zakat, haji - yang tak ditujukan untuk bina akhlak. Pun, "Mukmin tersempurna adalah yang terbaik akhlaknya," kata Nabi.
Kalau bukan karna akhlak para da'inya, tak mungkin masyarakat se-Nusantara menerima Islam dengan damai. Akankah halnya sama kalau mereka kasar dan keras hati? Percaya/tidak pada keberadaan Walisongo, da'i-da’i pembawa Islam ke Nusantara adalah kaum sufi. Merekalah pembawa obor ihsan, penyandang pekerti tinggi. Para da'i itu menyelaraskan apa yang bisa diselaraskan dengan budaya lokal, karena keyakinan bahwa budaya tak lain adalah percikan tajalliNya juga.
Mereka pun percaya, budaya yang tak menentang prinsip-prinsip agama boleh jadi adalah peninggalan para Nabi yang, menurut hadis, jumlahnya tak kurang dari 124.000. "Bagi setiap umat seorang Rasul" - (QS 10:47). Karena itu, tradisi bisa sama sakralnya karena mungkin saja itu adalah warisan salah seorang rasul. Bagaimana membedakan tradisi warisan nabi dan yang bukan? Apabila tak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama dan mengandung nilai-nilai kebaikan.
Kehidupan Dunia Sebagai Transit Menuju Akhirat
"Dia yang jadikan bumi tunduk padamu, maka jelajahi segala penjurunya, dan makanlah dari rizkiNya. Lalu kepadaNya kau kembali” - (QS 67:15).
Kecuali jika hubngan dengan Tuhan terus diplihara, " ... kehidupan dunia tak lain adalah kesenangan yang singkat dan mengelabui" - (QS 57:20).
Maka, terus berbuat-baiklah. Lalu ... "sempurnakan kebaikanmu karena sungguh Allah suka orang yang sempurnakan kebaikannya" - (QS 2:195).
"Dunia,"kata Nabi, "adalah ladang bagi akhirat", maka mari tanam kebaikan kepada manusia agar kelak kita panen kebaikan dari Allah. Karena ... “Tidak ada balasan untuk kebaikan yang sempurna kecuali kebaikan yang sempurna pula” - (QS 55:60).
Jadikan pemberian Allah sebagai modal kita dalam menyelenggarakan usaha menanam kebaikan di dunia ini demi panen di akhirat nanti: "Dan carilah akhirat dengan apa-apa yang telah diberikan Allah kepadamu ... dan sempurnakan kebaikanmu seperti Allah telah smpurnakan kebaikanNya kepadamu ...” - (QS 28:77).
"Sungguh kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang singkat, dan sungguh akhirat itulah tempat kediaman yang kekal" (QS 40:39). Maknanya? Kehidupan dunia terikat waktu serial (zaman): berawal dan berakhir. Tak demikian halnya dengan akhirat yang ruhani. Ia tak terikat waktu (sarmada).
Maka kehidupan dunia terpapar pancaroba, kebahagiaannya tak kekal. Kebahagiaan di akhirat tak kenal perubahan, bebas ketakbahagiaan. Menuruti dunia, mengurusi badan semata hanya mencegah dan menunda kebebasan kita dari pancaroba dan masuknya ke negeri kebahagiaan abadi.
Maka al-Quran menyebut dosa sebagai kezaliman terhadap diri sendiri, karena terus memasung bahkan saat manusia sudah di Barzakh & Kebangkitan. Samsara!
Mari terus kita basuh jiwa dengan kebaikan-kebaikan kemanusiaan, hingga ia mencapai derajat tertinggi ketenangan (muthmainnah). Jiwa yang, seperti kata Qatadah, tenang dalam pengenalan terhadap asma dan sifat-sifatnya, yakin dan berharap pada hidup setelah mati, barzakh dan kiamat, pun ridha terhadap takdirNya.
Jiwa yang oleh Sang Rabb, Tuhan-Pencinta, diseru untuk mudik kepadaNya, dengan penuh kerehatan, sebagai hamba-kekasihNya, masuk ke surgaNya - (QS 89:27-30).
Maka, "... berbekallah, dan sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS 2:197). Yakni, kesadaran keilahian yang melahirkan akhlak mulia dan amal saleh.
Kecuali jika hubngan dengan Tuhan terus diplihara, " ... kehidupan dunia tak lain adalah kesenangan yang singkat dan mengelabui" - (QS 57:20).
Maka, terus berbuat-baiklah. Lalu ... "sempurnakan kebaikanmu karena sungguh Allah suka orang yang sempurnakan kebaikannya" - (QS 2:195).
"Dunia,"kata Nabi, "adalah ladang bagi akhirat", maka mari tanam kebaikan kepada manusia agar kelak kita panen kebaikan dari Allah. Karena ... “Tidak ada balasan untuk kebaikan yang sempurna kecuali kebaikan yang sempurna pula” - (QS 55:60).
Jadikan pemberian Allah sebagai modal kita dalam menyelenggarakan usaha menanam kebaikan di dunia ini demi panen di akhirat nanti: "Dan carilah akhirat dengan apa-apa yang telah diberikan Allah kepadamu ... dan sempurnakan kebaikanmu seperti Allah telah smpurnakan kebaikanNya kepadamu ...” - (QS 28:77).
"Sungguh kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang singkat, dan sungguh akhirat itulah tempat kediaman yang kekal" (QS 40:39). Maknanya? Kehidupan dunia terikat waktu serial (zaman): berawal dan berakhir. Tak demikian halnya dengan akhirat yang ruhani. Ia tak terikat waktu (sarmada).
Maka kehidupan dunia terpapar pancaroba, kebahagiaannya tak kekal. Kebahagiaan di akhirat tak kenal perubahan, bebas ketakbahagiaan. Menuruti dunia, mengurusi badan semata hanya mencegah dan menunda kebebasan kita dari pancaroba dan masuknya ke negeri kebahagiaan abadi.
Maka al-Quran menyebut dosa sebagai kezaliman terhadap diri sendiri, karena terus memasung bahkan saat manusia sudah di Barzakh & Kebangkitan. Samsara!
Mari terus kita basuh jiwa dengan kebaikan-kebaikan kemanusiaan, hingga ia mencapai derajat tertinggi ketenangan (muthmainnah). Jiwa yang, seperti kata Qatadah, tenang dalam pengenalan terhadap asma dan sifat-sifatnya, yakin dan berharap pada hidup setelah mati, barzakh dan kiamat, pun ridha terhadap takdirNya.
Jiwa yang oleh Sang Rabb, Tuhan-Pencinta, diseru untuk mudik kepadaNya, dengan penuh kerehatan, sebagai hamba-kekasihNya, masuk ke surgaNya - (QS 89:27-30).
Maka, "... berbekallah, dan sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS 2:197). Yakni, kesadaran keilahian yang melahirkan akhlak mulia dan amal saleh.
LOSER
Judul di atas adalah bahasa inggris, tapi huruf “o” tidak dibaca “o” seperti oncom, melainkan berbunyi “u” seperti usus. Jadi baca saja “luser”. Loser adalah julukan bagi orang-orang yang kalah, bukan karena lemah atau tak berdaya, melainkan sikap mental yang dibuat sendiri. Kadang, ada juga kontribusi lingkungan yang membentuk seseorang menjadi loser, tetapi sebagai manusia kita punya pilihan, punya sikap: ingin menjadi winner (pemenang) atau membiarkan diri terpedaya oleh sikap yang bermuara pada kekalahan demi kekalahan.
Beberapa tahun yang lalu, Denis Waitley menuangkan gagasan-gagasannya dalam buku terkenalnya: Psychology of Winning. Sejak saat itu, majalah psikologi popular terkenal Psychology Today menurunkan tulisan berturut-turut tentang The Will to Win. Bahkan mengulas tentang keberhasilan Andrew Wiles mengungkap rahasia di balik Fermat’s Last Theorem yang sangat terkenal ( cn = an + bn ) yang hanya tidak berlaku bila n bukan 2. Media pegangan psikolog ini mulai meragukan peran IQ, dan mengangkat pentingnya ketabahan (gritty) dalam menjadikan seseorang pemenang.
Saya kira memahami psychology of loser di Indonesia jauh lebih penting dari pada memahami psychology of winner. Dan ini juga penting bagi para pemimpin dan politisi. Argumentasi yang belakangan banyak menuding tentang bahaya ancaman “liberalism” misalnya perlu melihat apakah kita akan menciptakan manusia-manusia pemenang atau manusia-manusia yang kalah. Apakah orang-orang yang kalah dalam kompetisi karena mereka benar-benar lemah dan terpedaya (sehingga harus dibantu) atau berpura-pura lemah dan sengaja membuat dirinya lemah sehingga benar-benar menjadi loser dan “penumpang” seumur hidup?
Winner
Seperti apakah orang-orang yang menjadi pemenang dalam pertarungan kehidupan ini?
Perlu dipahami pemenang bukanlah orang yang tak mau menerima kekalahan, melainkan orang yang tak pernah berhenti. Itulah yang kita sebut dengan ketabahan, determinasi. Kalau dia jatuh, dia cepat balik., Membal kembali seperti berpuasa di bulan suci ini. Kita selalu mengalami ujian dan dalam ujian itu tidak semua di antara kita orang yang sempurna. Bahkan hasil-hasil studi menemukan, orang-orang yang sangat berhasil (overachiever) ternyata menjalani kehidupan tidak dengan fun, melainkan sangat stress dan terlalu memaksa diri. Akibatnya mereka menjadi selfish (egois) karena hanya memikirkan diri sendiri.
Pemenang menjalani kehidupan penuh semangat, tak mudah putus asa, tidak mengeluh, tidak banyak complain, tidak menyalahkan orang lain (terhadap kesalahannya sendiri), tidak membuat-buat alasan. Ia menjadi bagian dari jawaban, selalu melihat kemungkinan-kemungkinan jalan keluar dari setiap masalah. Selalu ingin membantu orang lain, menjadi role model. Menyatakan “ini mungkin sulit, tetapi rasanya bisa”, dan ketika melakukan kesalahan langsung mengucapkan “sayalah yang bersalah”.
Karena itulah pemenang selalu membuat komitmen, bermimpi besar, berorientasi pada tindakan nyata, berlatih diri, menjadi bagian dari sebuah team besar, mendapatkan kemajuan dan percaya pada spirit sama-sama harus menang. Pemenang yang cerdas melihat prestasi yang besar di depan, argumentasinya kuat tetapi bahasanya sederhana dan lembut. Ia berpegang teguh pada nilai-nilai namun untuk hal-hal kecil rela berkompromi. Mereka mengatakan “sesuatu yang tidak saya inginkan terjadi pada saya tak boleh dilakukan pada orang lain”.
Makanya wajah winner selalu berseri-seri, meski sedang berpuasa ia selalu menjaga agar tak kelihatan loyo, malas, atau mendiamkan diri lusuh dan kurang berbau sedap. Winner adalah orang-orang yang mempersiapkan diri agar bahagia di hari kemenangan.
Loser
Bagaimana dengan loser? Anda tinggal membalikkan saja semua penjelasan di atas satu persatu . Mereka mudah menyerah, selalu mengatakan susah, banyak mengeluh, banyak complain, menyalahkan orang lain atas kesalahan-kesalahan yang ia perbuat sendiri, bahkan senang mencari-cari alasan (making excuse). Meski setiap hari datang terlambat, kalau ditegur bukannya memperbaiki diri, loser selalu punya alasan i untuk membenarkan ketidakdisiplinannya. Akibatnya loser menjadi sulit sendiri untuk berubah atau memperbaiki kehidupannya.
Mereka juga senang menjelek-jelekan orang lain, mempersulit orang yang akan berhasil, berbicara yang buruk-buruk, bertindak yang ngawur-ngawur dan random, membiarkan irama hati menguasai pikiran yang bisa membuat orang lain pusing. Maka tak mengherankan bila ia selalu menjadi bagian dari masalah, dan menolak melakukan tugas-tugas yang tidak ada dalam job descriptionnya. Dan bila seseorang berbicara yang positif mereka akan meradang dan menunjukkan masalah-masalahnya. Dan kalau ia melakukan kesalahan selalu menyatakan “itu bukan karena saya”. Perhatikanlah bahasa mereka dalam banyak milis atau komentar-komentar mereka yang ada pada setiap berita bagus di media-media online. Saya membaca betapa mereka memutar-mutar wawancara di berbagai media online dengan saya dengan klaim-klaim yang sinis. Loser adalah orang yang tahu sedikit tetapi merasa sudah sangat mengerti.
Loser hanya omong kosong, janji-janji, punya skema-skema yang seakan-akan hebat, dan bicaranya orang lainlah yang harus melakukan sesuatu. Ia tidak melihat “gain” (keuntungan), melainkan “pain” (sakitnya) saja. Mereka percaya kalau menang harus mengalahkan orang lain (win-lose). Kata-katanya keras, padahal argumentasinya tidak masuk akal. Hal-hal kecil dipersoalkan, sedangkan yang penting-penting dan bernilai besar dibiarkan hilang.
Maka jangan heran sekalipun cantik atau berfisik ganteng, loser semakin hari semakin tak enak dilihat. Mereka senang lempar batu sembunyi tangan, memakai nama samaran kalau berkomentar. Wajahnya kumuh, auranya tidak ada, sinar matanya menghilang, hatinya kejam, suaranya tidak enak didengar, ilmunya kering, senang menyakiti orang lain dan mohon maaf, ia pandai membuat alasan di bulan suci ini. Ia membiarkan bau aromanya mengganggu orang lain, dan membenarkan bila disiplinnya turun dan tidak produktif. Prinsip mereka: orang lain dulu yang memperbaiki diri baru saya.
Rhenald Kasali
Beberapa tahun yang lalu, Denis Waitley menuangkan gagasan-gagasannya dalam buku terkenalnya: Psychology of Winning. Sejak saat itu, majalah psikologi popular terkenal Psychology Today menurunkan tulisan berturut-turut tentang The Will to Win. Bahkan mengulas tentang keberhasilan Andrew Wiles mengungkap rahasia di balik Fermat’s Last Theorem yang sangat terkenal ( cn = an + bn ) yang hanya tidak berlaku bila n bukan 2. Media pegangan psikolog ini mulai meragukan peran IQ, dan mengangkat pentingnya ketabahan (gritty) dalam menjadikan seseorang pemenang.
Saya kira memahami psychology of loser di Indonesia jauh lebih penting dari pada memahami psychology of winner. Dan ini juga penting bagi para pemimpin dan politisi. Argumentasi yang belakangan banyak menuding tentang bahaya ancaman “liberalism” misalnya perlu melihat apakah kita akan menciptakan manusia-manusia pemenang atau manusia-manusia yang kalah. Apakah orang-orang yang kalah dalam kompetisi karena mereka benar-benar lemah dan terpedaya (sehingga harus dibantu) atau berpura-pura lemah dan sengaja membuat dirinya lemah sehingga benar-benar menjadi loser dan “penumpang” seumur hidup?
Winner
Seperti apakah orang-orang yang menjadi pemenang dalam pertarungan kehidupan ini?
Perlu dipahami pemenang bukanlah orang yang tak mau menerima kekalahan, melainkan orang yang tak pernah berhenti. Itulah yang kita sebut dengan ketabahan, determinasi. Kalau dia jatuh, dia cepat balik., Membal kembali seperti berpuasa di bulan suci ini. Kita selalu mengalami ujian dan dalam ujian itu tidak semua di antara kita orang yang sempurna. Bahkan hasil-hasil studi menemukan, orang-orang yang sangat berhasil (overachiever) ternyata menjalani kehidupan tidak dengan fun, melainkan sangat stress dan terlalu memaksa diri. Akibatnya mereka menjadi selfish (egois) karena hanya memikirkan diri sendiri.
Pemenang menjalani kehidupan penuh semangat, tak mudah putus asa, tidak mengeluh, tidak banyak complain, tidak menyalahkan orang lain (terhadap kesalahannya sendiri), tidak membuat-buat alasan. Ia menjadi bagian dari jawaban, selalu melihat kemungkinan-kemungkinan jalan keluar dari setiap masalah. Selalu ingin membantu orang lain, menjadi role model. Menyatakan “ini mungkin sulit, tetapi rasanya bisa”, dan ketika melakukan kesalahan langsung mengucapkan “sayalah yang bersalah”.
Karena itulah pemenang selalu membuat komitmen, bermimpi besar, berorientasi pada tindakan nyata, berlatih diri, menjadi bagian dari sebuah team besar, mendapatkan kemajuan dan percaya pada spirit sama-sama harus menang. Pemenang yang cerdas melihat prestasi yang besar di depan, argumentasinya kuat tetapi bahasanya sederhana dan lembut. Ia berpegang teguh pada nilai-nilai namun untuk hal-hal kecil rela berkompromi. Mereka mengatakan “sesuatu yang tidak saya inginkan terjadi pada saya tak boleh dilakukan pada orang lain”.
Makanya wajah winner selalu berseri-seri, meski sedang berpuasa ia selalu menjaga agar tak kelihatan loyo, malas, atau mendiamkan diri lusuh dan kurang berbau sedap. Winner adalah orang-orang yang mempersiapkan diri agar bahagia di hari kemenangan.
Loser
Bagaimana dengan loser? Anda tinggal membalikkan saja semua penjelasan di atas satu persatu . Mereka mudah menyerah, selalu mengatakan susah, banyak mengeluh, banyak complain, menyalahkan orang lain atas kesalahan-kesalahan yang ia perbuat sendiri, bahkan senang mencari-cari alasan (making excuse). Meski setiap hari datang terlambat, kalau ditegur bukannya memperbaiki diri, loser selalu punya alasan i untuk membenarkan ketidakdisiplinannya. Akibatnya loser menjadi sulit sendiri untuk berubah atau memperbaiki kehidupannya.
Mereka juga senang menjelek-jelekan orang lain, mempersulit orang yang akan berhasil, berbicara yang buruk-buruk, bertindak yang ngawur-ngawur dan random, membiarkan irama hati menguasai pikiran yang bisa membuat orang lain pusing. Maka tak mengherankan bila ia selalu menjadi bagian dari masalah, dan menolak melakukan tugas-tugas yang tidak ada dalam job descriptionnya. Dan bila seseorang berbicara yang positif mereka akan meradang dan menunjukkan masalah-masalahnya. Dan kalau ia melakukan kesalahan selalu menyatakan “itu bukan karena saya”. Perhatikanlah bahasa mereka dalam banyak milis atau komentar-komentar mereka yang ada pada setiap berita bagus di media-media online. Saya membaca betapa mereka memutar-mutar wawancara di berbagai media online dengan saya dengan klaim-klaim yang sinis. Loser adalah orang yang tahu sedikit tetapi merasa sudah sangat mengerti.
Loser hanya omong kosong, janji-janji, punya skema-skema yang seakan-akan hebat, dan bicaranya orang lainlah yang harus melakukan sesuatu. Ia tidak melihat “gain” (keuntungan), melainkan “pain” (sakitnya) saja. Mereka percaya kalau menang harus mengalahkan orang lain (win-lose). Kata-katanya keras, padahal argumentasinya tidak masuk akal. Hal-hal kecil dipersoalkan, sedangkan yang penting-penting dan bernilai besar dibiarkan hilang.
Maka jangan heran sekalipun cantik atau berfisik ganteng, loser semakin hari semakin tak enak dilihat. Mereka senang lempar batu sembunyi tangan, memakai nama samaran kalau berkomentar. Wajahnya kumuh, auranya tidak ada, sinar matanya menghilang, hatinya kejam, suaranya tidak enak didengar, ilmunya kering, senang menyakiti orang lain dan mohon maaf, ia pandai membuat alasan di bulan suci ini. Ia membiarkan bau aromanya mengganggu orang lain, dan membenarkan bila disiplinnya turun dan tidak produktif. Prinsip mereka: orang lain dulu yang memperbaiki diri baru saya.
Rhenald Kasali
Langganan:
Postingan (Atom)