Selasa, 14 Mei 2013

Pertolongan Tuhan


Seseorang, sebut saja Badu sedang terombang-ambing dilautan karena kapal yang ditumpanginya tenggelam. Dari seluruh penumpang, hanya Badu yang masih selamat. Ditengah ketakutannya, Badu memohon pertolongan Tuhan. Tak lama kemudian sebuah perahu menghampiri Badu, berniat memberi pertolongan. Badu menolak, alasanya karena dia menunggu pertolongan Tuhan. Ketika kapal kedua tiba, Badu masih saja menolak. Akhir cerita, Badu mati tenggelam.

Di hari akhir, Badu protes, mengapa Tuhan tidak memberi pertolongan padahal dia sudah khusuk berdoa. Tuhan menjawab bahwa Dia telah mengirim dua kapal bantuan yang selalu di tolak oleh Badu.

Maka percaya sajalah, jika kita tulus meminta, maka Tuhan akan memberi pertolongan. Tak selalu persis seperti yang di minta, karena Dia selalu memilihkan yang terbaik untuk kita. Oh ya. Saya jadi teringat film “The Life of Pi.” Menarik untuk ditonton, kisah pengalaman seorang bernama Pi bersama seekor harimau terombang-ambing berdua diatas perahu penyelamat.

Manfaat Makanan


Manfaat makanan pada kesehatan seperti yang saya baca di buku The Miracle of Enzyme dan The Microbes Factor karya Horomi Shinya, MD.

Makin lengkapnya pengetahuan ilmiah mengenai system kekebalan bawaan dalam tubuh kita belum menghasilkan perbaikan bagi kesehatan manusia. Berbagai penyakit yang berkaitan dengan kegemukan semakin meningkat, seperti diabetes tipe 2, darah tinggi dan kolesterol tinggi. Sebagian disebabkan kurang gerak badan, tapi banyak pula kaitannya dengan apa yang dimakan dan bagaimana cara makan sekarang. Selain itu banyak anak menderita alergi. Penyakit auto imun sedang marak: diantaranya alergi, asma, lupus dan artritis rematoid.

Saya melihat ada penyebab utama bagi segala penyakit terkait makanan dan gizi itu adalah: globalisasi. Hingga beberapa puluh tahun terakhir, orang biasanya tetap di tempat leluhurnya tinggal dan memakan makanan yang ditumbuhkan dan dimakan leluhurnya. Praktik-praktik pertanian, perikanan, perburuan, dan pengolahan makanan yang telah di kembangkan bergenerasi-generasi masih diandalkan oleh orang tua dan kakek-nenek kita.

Lalu belakangan ini semua itu berubah selagi kemajuan transportasi dan komunikasi mulai mengecilkan dunia. Orang makin sering bepergian, begitu pula makanan dan teknologi untuk menumbuhkan, memanen dan mengolah. Proses ini sudah berlangsung cukup lama, tapi dalam generasi kita prosesnya menjadi makin cepat. Nyaris semua pasar swalayan lokal menawarkan buah impor. Di tiap kota besar kita kini menemui aneka makanan cepat saji yang praktis, murah dan kadang rasanya membuat kecanduan. Anak-anak kita kini doyan makan mie instan dan jajan keripik Chiki dan sejenis yang terbuat dari tepung terigu (plus penguat rasa) impor dari Amerika. Kita telah terbiasa makan makin banyak kalori yang hampa gizi, sehingga penduduk negeri ini pun menjadi kegemukan tapi masih kekurangan gizi yang benar-benar diperlukan badan.

Tubuh manusia dan tanah airnya memiliki hubungan yang tak terpisahkan. Kita dapat menyantap makanan dari seluruh dunia, tapi sebagian besar kita masih mendapatkan makanan dari negeri tempat tinggal kita. Oleh sebeb itu kesehatan suatu bangsa akan banyak tergantung pada kondisi tanah tempat tinggal mereka.

Karena sebelumnya sedang membahas tentang kurma, perlu dijelaskan disini bahwa saya tak bermaksud mengatakan bahwa kurma tak bermanfaat bagi kesehatan. Sudah tentu kita sesekali dapat menikmati kurma dan tubuh kita bisa mengambil manfaat darinya. Tapi yang perlu diketahui bahwa buah atau tumbuhan yang tumbuh di tanah di sekitar kita hidup tetap merupakan yang terbaik untuk di konsumsi sehari-hari. Selama berabad-abad nenek moyang kita telah mengkonsumsi makanan yang berasal dari daerah di sekitar tempat tinggalnya, sehingga tubuh mereka telah menyesuaikan diri dengan sangat baik untuk mengambil manfaat maksimal dan mengembangkan daya tahan terhadap pengaruh negatif yang mungkin ada. Tubuh kita saat ini merupakan hasil pergulatan ribuan tahun nenek moyang kita dalam meyesuikan diri dengan lingkungannya. Ketika kita mengubah pola hidup dan makan kita, tubuh kita mungkin tidak terlalu siap menerima dan tubuh kita menjadi rentan.

Does the President matter?


Pertanyaan, "does the President matter?” rasanya perlu direnungkan. Sejauh mana sesungguhnya kebijakan dan instruksi Presiden berdampak bagi keadaan Republik?

Dalam sistem desentralisasi kini, Presiden tak bisa mengangkat, mempromosikan atau memecat kepala daerah. Presiden juga tak bisa menguasai media massa. Termasuk TVRI. Sementara tokoh-tokoh oposisi bisa.

Mungkin karena sistemnya atau faktor psikologi SBY, Presiden bahkan tak bisa efektif arahkan menteri-menterinya. Seperti kasus harga bawang kini, tak terlihat ada koordinasi antar kementerian. Mungkin bisa dilihat pada banyak kasus lain.

Kabinet ini tak sepenuhnya presidensiil. Menteri bisa lebih taat kepada garis partainya atau pemimpinnya. Tapi juga tak sepenuhnya parlementer. Menteri-menteri itu bisa dievaluasi, diberhentikan dan diganti Presiden. Kabinet tak bisa dijatuhkan. Menteri bisa dievaluasi, tapi tak jelas apakah SBY melakukan itu dengan konsisten. Yang jelas: tak ada yang diganti karena prestasinya buruk.

Jadi perlu direnungkan: does the President matter? Tidakkah bupati dan walikota yang lebih punya dampak bagi keadaan/ perubahan? Jika dilihat begitu, yang ingin bikin perubahan sebenarnya lebih baik berjuang di tingkat daerah.

Apalagi sulit banget jadi presiden. Untuk jadi presiden, harus punya partai yang boleh ikut pemilu plus dana besar untuk kampanye. Bagaimana misalnya kalau Jokowi yang diminta rakyat untuk bertarung jadi presiden, apakah diperlukan syarat-syarat diatas juga? Sudah pasti. Dia harus dicalonkan setidaknya oleh salah satu partai yang ikut pemilu. Dan harus punya dana besar! Maka yang ada politik oligarki: kuasa orang kaya.

Kalau toh ada partai yang bersedia mencalonkan Jokowi, sudah hampir pasti partai kecil. Terjadi hubungan yang saling menguntungkan. Simbiosis mutualis. Partai kecil memerlukan tokoh populer untuk menaikan perolehan suara mereka. Si tokoh populer memerlukan kendaraan untuk memenuhi ambisinya.

Dilain pihak, artai besar cenderung mencalonkan ketua atau “cukong” mereka sendiri. Kalau toh ada pengusaha kaya bersedia mendukung pendanaan buat kampanye tokoh populer, Jokowi misalnya, sudah hampir dipastikan ada kacang dibalik rempeyek. Dia tentu sedang berinvestasi untuk masa depan. Tidak ada makan siang yang gratiskan?

Lalu bagaimana dong? Apakah negeri ini memerlukan reformasi jilid-2 supaya bisa melepaskan diri dari kemelut tak berkesudahan ini?.

Sekadar Info


* Warna asli Coca-Cola adalah hijau. 

* Otot yang paling kuat di tubuh manusia adalah otot lidah.

* Setiap orang di Amerika rata-rata mempunyai 2 kartu kredit.

* Kata paling panjang yang bisa diketik dengan satu baris tuts di keyboards adalah "TYPEWRITER".

* Wanita berkedip dua kali lebih banyak dari pria.

* Seseorang tidak akan pernah mati hanya dengan menahan nafasnya.

* Tidak akan pernah seseorang bisa menjilat siku tangannya sendiri.

* Seekor babi tidak akan pernah mendongak melihat langit.

* Bersin terlampau keras akan menyebabkan tulang iga retak.

* Menahan bersin akan memecahkan pembuluh darah di leher dan di otak dan bisa menyebabkan kematian.

* 111,111,111 x 111,111,111 = 12,345,678,987, 654,321.

* Madu adalah satu-satunya makanan apa yang tidak akan pernah basi.

* Seekor buaya tidak akan bisa menjulurkan lidahnya keluar, walaupun membuka mulutnya setiap hari.

* Siput/keong bisa tidur selama 3 tahun secara terus-menerus.

* Semua beruang kutub ternyata kidal.

* Pada tahun 1987, American Airlines bisa mengurangi cost sebesar $40.000 hanya dengan menghilangkan bahan minyak zaitun pada menu salad di kelas 1.

* Kupu-kupu mencicipi tar bunga dengan kakinya.

* Gajah adalah satu-satunya binatang darat yang tidak bisa melompat.

* Rata-rata manusia lebih takut laba-laba daripada takut mati.

* Semut akan selalu jatuh pingsan ke arah kanan jika terbius.

* Kursi listrik ditemukan oleh dokter gigi.

* Jantung bisa memompa darah sejauh 30 kaki.

* 2 tikus bisa beranak pinak hingga 1 juta dalam 18 bulan.

* Memakai headphones walkman 1 jam bisa menghasilkan kuman di telinga sebanyak 700 kali lebih banyak.

* Zippo (catu api) ditemukan lebih dulu daripada korek api manual.

* Hampir semua lipstik mengandung sisik ikan.

* Seperti sidik jari, lidah setiap manusia juga berbeda-beda.

* Dan terakhir, setiap orang yang membaca tulisan ini pasti akan mencoba menjilat siku tangan mereka.

Berdoa untuk Mengenal Allah


Manusia tidak mengenal Tuhan, atau tidak bersedia mengenal Tuhan? Tidak ada yang lebih berhak menjawab pertanyaan ini kecuali masing-masing manusia itu sendiri. Tidak ada jawaban yang bersifat umum. Sebelum akhirnya hidup sebagai makhluk sosial, manusia adalah makhluk pribadi. Dan, meski telah menjadi makhluk sosial, toh pada dasarnya manusia tetap makhluk pribadi sehingga Tuhan dan hal-hal tentang Tuhan adalah privasi. 

Manusia bisa belajar mengenal Tuhan dari bagaimana ia menyediakan kata-kata untuk memohon kepadaNya. Dari bagaimana ia berdoa. Jika menggunakan kata-kata umum, contoh-contoh doa yang selama ini telah tersedia -- tanpa mengurangi rasa hormat dan keyakinan atas keberkahan contoh doa-doa itu -- tampaklah bahwa sedekat apa ia dengan Tuhan. Jika ia menyusun kata-katanya sendiri, sebagaimana kata hati dan keadaan yang nyata baginya, maka terlihat betapa ia mendekat dengan keluguannya yang manusiawi.

Allah adalah Pengatur Alam Semesta, dan tentu saja berbicara kepadaNya tak terbatas oleh kata dan bahasa. Dia tak hanya mengerti bahasa tertentu, Dia Maha Mengetahui bahkan segala yang tebersit di hati. Dalam Q.S. Ali Imran: 38, disebutkan bahwa Zakaria menyebut Allah,"Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa," tentu saja, itu bermakna dengan bahasa apa pun doa disampaikan -- bahkan Dia Maha Mengerti apa yang diminta dan dibutuhkan sebelum pendoa itu memohon kepadaNya.

Maka, seharusnya bahasa tak perlu menjadi kendala, demikian kekhawatiran bahwa doa tidak akan didengarkan, pun tidak dikabulkan. Asalkan meyakini bahwa Allah lebih mengetahui mana yang lebih baik bagi kita, maka setiap doa pasti terkabul dalam wujudnya yang paling baik; tidak selalu seperti yang kita inginkan, tapi tak perlu lagi bahwa kenyataan setelah berdoa itulah yang paling kita sesuai dengan yang semestinya kita terima. Jika Muhammad SAW saja berpetuah,"Sebaik-baik doa adalah memuji Allah, Yang Maha Mengatur Alam Semesta," maka doa adalah tentang bagaimana kita bersyukur.

Dalam Q.S. Al Baqarah: 186, Allah berfirman,"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintahKu dan beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." Tidak ada keraguan sedikit pun betapa berdoa kepadaNya adalah salah satu cara paling baik untuk belajar mengenalNya, yang dengan cara ini tampak dengan sendirinya cara kita mengenal diri kita sendiri.

Dari bagaimana seseorang berdoa, ia bisa belajar mengenal hakikatnya sebagai hamba Allah. Sebagaimana diabadikan dalam Q.S. Huud: 47, Nuh AS juga belajar tentang dirinya sendiri dengan berdoa," Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari memohon kepadaMu sesuatu yang aku tiada mengetahui hakikatnya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi". Di ayat sebelumnya, Allah memang memperingatkan,"Janganlah engkau memohon kepadaKu sesuatu yang engkau tidak mengetahui hakikatnya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan".

Doa adalah medium komunikasi yang sangat indah antara hamba dan Tuhan. Sang hamba bersimpuh, bahkan bersujud, mengiba dengan ucapan-ucapan dari bahasa airmata, bahasa bibir gemetar, dan bahasa hati yang berharap-harap cemas; sementara Allah menjawab doa dengan memberi keyakinan, harapan, dan petunjuk untuk melangkah menuju kenyataan atas apa yang sang hamba minta. Dalam Q.S. Al A'raf: 55, Allah berpesan,"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."

Memaknai berdoa sebagai cara untuk bersyukur juga adalah keindahan tersendiri. Kita berdoa kepada Allah bukan memohon agar beban diringankan, namun agar kekuatan ditambahkan. Dalam Q.S. Al Baqarah: 286 Allah sudah menetapkan bahwa Dia tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Segala sesuatu telah ditetapkan sesuai kadar, keadaan, kedudukan, dan kenyataan. Berdoa menjadi cara kita memujiNya dan bersyukur, dan oleh karena kita pandai beryukur maka Allah berjanji akan menambah kenikmatan kepada kita. Bagaimana pun, sebagaimana Q.S. Ar Ra'du: 14,"Hanya bagi Allah-lah hak mengabulkan doa yang benar." []
Candra Malik - pengasuh Kelas Sufi

JARAK PANDANG


Pada tahun 1952 Florence May Chadwick berusaha untuk menjadi wanita pertama yang berenang sejauh 26 miles dari pantai California ke pulau Catalina - hampir sama dengan jarak Jakarta-Bogor ! Setelah berenang 15 jam di laut yang sangat dingin dan sesekali berpapasan dengan ikan hiu, dia mulai ragu apa bisa sampai ke pantai karena jarak pandangnya yang terhalang oleh kabut tebal. Dia terus berenang sampai satu jam kemudian dan akhirnya menyerah. Duduk termenung di kapal yang menyelamatkannya, dia menyesal setelah mengetahui pantai yang dituju sebenarnya hanya kurang dari 1 mile lagi - jarak pandang menghalanginya untuk sampai tujuan.

Dalam bercita-cita, berkarir, berusaha dan lain sebagainya, kita akan sulit mencapai tujuan manakala tujuan itu berada diluar jarak pandang kita. Sesuatu yang berada diluar jarak pandang tidak bisa dilihat jauh dekatnya, tidak bisa diukur daya tahan resources yang dibutuhkannya.

Lantas apakah dengan demikian kita tidak bisa memiliki cita-cita yang jauh kedepan ? cita-cita yang berada dibalik cakrawala ? Tentu bisa, tetapi cita-cita yang jauh berada diluar jarak pandang itu harus bisa di-breakdown melalaui beberapa tahap batu loncatan (milestones) yang masing-masing ‘batu’ nampak jelas terlihat dari ‘batu’ sebelumnya. Atau dengan kata lain ‘batu’ yang berikutnya harus berada pada jarak pandang dari ‘batu’ tempat kita berdiri saat ini, begitu seterusnya.

Di antara satu ‘batu’ dengan ‘batu’ berikutnya juga tidak harus memiliki jarak yang fix, bisa diperdekat bila jarak pandang memburuk – bisa diperjauh bila jarak pandang membaik.

Walhasil ketika cita-cita Anda tinggi dan masih jauh dibalik cakrawala, coba uraikan dengan meletakkan ‘batu-batu’ di antaranya – yang masing-masing batu dengan batu berikutnya berjarak maksimal hanya sejauh mata bisa memandang, insyaallah cita-cita tersebut akan lebih mudah dicapai.

Jarak pandang tidak harus dengan mata, bisa dengan hati, dengan akal dan dengan berbagai cara lain yang bisa kita gunakan untuk mendeteksi ‘jarak’.

Seperti apa yang dialami oleh Florence May Chadwick di awal tulisan ini, dua bulan setelah kegagalannya – dia mencoba kembali berenang dari pantai California ke Catalina. Kabut tebal tetap menghalangi pandangannya, tetapi di hatinya tertanam tekad yang sangat kuat bahwa pantai yang ditujunya dekat. Kali ini bukan hanya dia berhasil, bahkan keberhasilannya memecahkan rekor dua jam lebih cepat dari yang sebelumnya ditempuh perenang pria. Maka lihatlah cita-cita Anda yang tinggi dan jauh dibalik cakrawala itu, bila dia masih begitu jauh sehingga berada diluar jarak pandang mata/hati/pikiran Anda – barangkali memang perlu ‘batu-batu’ loncatan sebelum sampai pada cita-cita yang sesungguhnya. InsyaAllah.

Selasa, 23 April 2013

Minyak Bumi


Total produksi minyak nasional saat ini sekitar 900 ribu barrel. Banyak orang Indonesia tidak tahu produksi minyak dari ladang-ladang minyak Pertamina cuma 100 ribu barrel. Sisanya dari ladang non-Pertamina. Produksi minyak Medco di dalam negeri misalnya mencapai 60 ribu barrel/ hari. Rencananya produksi akan naik jadi 120 ribu mulai 2013. Bila itu terjadi & produksi di Cepu belum juga dimulai - maka dalam hal menambang minyak - Pertamina bahkan akan kalah dibanding Medco. Produsen minyak terbesar justru Chevron Pacific, sekitar 500 ribu barrel/ hari. Produsen gas terbesar adalah Total EP Indonesie.

Oil company dari luar itu yang memproduksi minyak untuk Indonesia. Mereka yang melakukan eksplorasi dan menambang, tentu wajar dapat bagian dari usaha mereka. Pertamina pun akan begitu di luar negeri.

Orang suka lupa bahwa bisnis minyak harus kuat modal. Risikonya tinggi. Kalau modalnya tidak kuat/ digerogoti - ya susah. Proses mendapatkan hidrocarbon panjang dan super mahal. Untuk bikin sumur explorasi/ wildcat butuh sewa rig. Rate sewanya harian. Tergantung dari jenis rig. Rig darat ratenya ribuan dollar/ hari. Rig offshore bisa ratusan ribu dollar. Itu baru eksplorasi, belum produksi. Empat tahun yang lalu sewa rig sempat $700rb/ hari. Dan itu juga belum tentu dapat. Utilisasinya hampir 100%.

Banyak yang tidak mengetahui bahwa Bank DILARANG membiayai ekplorasi minyak yang belum keluar dari tanah. Jadi semua penggalian harus modal sendiri. Uang yang ada di Bank kan milik masyarakat. Eksplorasi mahal dan banyak ketidak pastian - makanya tidak boleh pakai uang bank. Pemerintah akan ganti biaya ekplorasi cuma kalau sumurnya menghasilkan. Kalau sampai di bor tidak keluar minyak, perusahaan rugi jutaan dollar. Ditanggung sendiri.

UU Migas tidak mengurus soal kredit untuk ekplorasi, yang mengurus peruntukan dan kelayakan kredit adalah Bank Sentral. Bank boleh membiayai bila minyaknya sudah keluar dari tanah - semisal buat pengangkutan. Kalau eksplorasi jelas tidak boleh.

Bisnis Gas memang masih ada untung - tapi kalau tidak ada investasi baru, maka nasibnya akan segera menyusul bisnis minyak. Eksplorasi itu seperti main dadu. Perbandingan tingkat keberhasilannnya cuma 1:6. Sekarang katanya disebagian besar lokasi perbandingannya sudah meningkat menjadi 1:9 atau 1:10. Kalau bank ikut membiayai eksplorasi, maka tinggal tunggu waktu saja banknya kolaps. Mencari minyak tidak semudah mencari air. Bor (drill), belum tentu ada. Ternya dry hole. Atau fluida suka "lari". Kalaupun discovery, belum tentu ekonomis.

Itu sebabnya eksplorasi minyak masih menggunakan kontraktor "asing". Memerlukan jutaan dollar untuk eksplorasi, kalalau gagal menemukan minyak, ya urusan investor, negara tidak mengganti kerugian sepeserpun. Kalau minyak ketemu, baru semua diganti pemerintah dan dilakukan bagi hasil. Setelah produksi, fasilitas produksi menjadi milik negara, bukan punya si kontraktor asing.

Sumber minyak memang masih banyak - tapi di negeri orang. Atau minyaknya extra heavy seperti di Kanada. Minyak mentahnya kayak lumpur. Kanada punya cadangan tar-sand oil lebih banyak daripada cadangan minyak Arab Saudi. Tapi minyaknya kayak lumpur bercampur pasir.

Ciri khas industri perminyakan.adalah.high cost, high tech, and high risk. Dinegara kita tren eksplorasi makin ke timur, rata-rata offshore laut dalam. Cost eksplorasi 1 sumur sekitar $70 - $100 juta. Pernah ada yang sampai $180 juta, itupun dry. Sumur $180 juta hasilnya dry? Perusahaannya apa nggak semaput? Perusahaan Murphy Oil, mengebor 1 sumur di Blok Semai, daerah palung perairan Papua. Bukan semaput lagi, mereka langsung cabut dari Indonesia. Wajar saja, kalau 1 sumur sampai tekor $180 Juta, mereka harus ngebor berapa banyak supaya bisa balik modal. Kapan untungnya?

Tidak perlu jauh-jauh. Kasus Lapindo sudah membuktikan kejamnya risiko tambang minyak. Apalagi ditambah dengan kecerobohan. Ada teman yang cerita, Lapindo jadi bencana karena mereka tidak rela meninggalkan rig drilling. Begitu dicabut - yang keluar lumpur. Rig drilling memang mahal. Jutaan dollar. Tapi gara-gara lumpur yang keluar tidak habis-habis, ruginya trilyunan dan bertahun-tahun.

Mereka telat pasang casing, terjadi blow out. Harusnya langsung dihandle oleh rig. Tapi rig nya malah pergi karena kabarnya tidak diasuransikan. Asuransi lokal mana mau menjamin ekplorasi minyak. Kan lebih untung jualan asuransi jiwa, pendidikan, dll. Seorang teman lain mengatakan, mereka bukan cuma telat, tapi sengaja lanjut drilling untuk menghemat casing. Padahal SOP nya set casing dulu baru lanjut ngebor. Jadi ada SOP yang dilanggar. Kalau ini di expose bisa digolongkan human eror, bukan bencana nasional seperti statusnya sekarang. Akibatnya Bakrie bisa bangkrut buat bayar ganti rugi.

Ingat kasus Deep Water Horizon Teluk Mexico? BP sampai rugi milyaran dollar. Kebayang kalau Pertamina yang mengalami itu.

Seorang konsultan minyak saja dibayar $1000/ hari selama berbulan-bulan. Belum tentu ada hasil. Mengapa mahal? Karena orangnya tidak banyak, kerjanya di tempat terpencil, berurusan dengan mesin yang mahal dan risiko kerja tinggi. Belum lagi harus membangun fasilitas produksi yang investasinya ratusan juta dollar.

Itulah kenapa Pertamina belum berani drilling di deep water apalagi di timur Indonesia. Padahal minyak kita makin ke timur. Pertamina pernah hampir bikin negara bangkrut karena korupsi berjamaah, sehingga tidak boleh lagi pegang duit langsung, harus lewat Depkeu RI. Karena duitnya dipegang orang lain, insentif untuk ekplorasi jadi rendah. Modal juga cuma pas-pasan. SDM-nya pada pindah. Bisnis selalu mengikuti arah orang. Kalau SDM-nya pindah, maka bisnisnya pun ikut pindah ke tempat lain. Begitu juga di bisnis minyak.

Berita Pertamina nyaris bikin bangkrut Indonesia sangat terkenal di tahun 70-an. Untung karena perang di Timur Tengah, harga minyak naik dan Indonesia selamat. Dulu konsumsi BBM dalam negeri masih sangat rendah, jika dibandingkan dengan produksi. Jadi Indonesia masih sangat diuntungkan oleh kenaikan harga minyak era tahun 70-an itu.

Dari 60 cekungan migas di Indonesia 39 diantaranya terletak di sebelah timur. Berarti ongkos akan semakin mahal. Eksplorasi onshore di papua, bukan hanya biaya operasi besar, tapi ada banyak biaya-biaya lain seperti "biaya pengganti harapan". Di papua terkenal dengan biaya pengganti yang tak wajar. Mau ngebor 1 sumur, pembebasan tidak sekedar membebaskan lahan. Bisa jadi disana ada pohon buah, nanti dihitung cost oleh warga. Kira-kira selama 50 tahun kedepan berbuah, nah, itu biaya yang harus diganti. Kalau di ekonomi itu namanya konsep Time Value of Money. Banyak yang tidak paham konsep itu biarpun sekolahnya sarjana.

Seorang teman yang kerja di BP bercerita bahwa BP pernah mengeluarkan dana 300 juta rupiah untuk pemindahan pohon keramat. Dibayarkan ke kepala suku. Kendaraaan operasional menabrak seekor babi, ganti ruginya 20 babi karena bisa jadi babi itu beranak banyak. Seringkali dihitung sesuai jumlah puting susu babi betina. Saya jadi ingat pengalaman masal lalu di Aceh ketika proyek PIM-1. Kalau tidak salah PIM masih membayar buah kelapa yang ada dikomplek perumahan PIM beberapa tahun kemudian. Karena katanya yang dulu dibayar baru ganti rugi pohonnya. Buah nya belum. Dan pohon itu masih berbuah sampai bertahun-tahun kemudian. Masih ingak kalau menabrak kambing dijalanan? Ganti ruginya dihitung sampai ke anak-cucu kambing tersebut. Dimana-mana ternyata sama saja.