Jumat, 01 Mei 2015

7 Keajaiban Dunia



Seorang guru memberikan tugas kepada siswanya untuk menuliskan 7 Keajaiban Dunia.

Tepat sebelum kelas usai siang itu, semua siswa diminta untuk mengumpulkan tugas mereka.

Seorang gadis kecil yang paling pendiam di kelas itu, mengumpulkan tugasnya paling akhir dengan ragu-ragu. Tidak ada seorangpun yang memperhatikan hal itu…

Malamnya sang guru memeriksa tugas itu.
Sebagian besar siswa menulis demikian,

Tujuh Keajaiban Dunia:

1. Piramida
2. TajMahal
3. Tembok Besar Cina
4. Menara Pisa
5. Kuil Angkor
6. Menara Eiffel
7. Kuil Parthenon

Lembar demi lembar memuat hal yang hampir sama. Beberapa perbedaan hanya terdapat pada urutan penulisan daftar tersebut.

Tapi guru itu terus memeriksa sampai lembar yang paling akhir…

Tapi saat memeriksa lembar yang paling akhir itu, sang guru terdiam. Lembar terakhir itu milik si gadis kecil pendiam…

Isinya seperti ini :

Tujuh Keajaiban Dunia:

1. Bisa Melihat
2. Bisa Mendengar
3. Bisa Menyentuh
4. Bisa diSayangi
5. Bisa Merasakan
6. Bisa Tertawa, dan
7. Bisa Mencintai…

Setelah duduk diam beberapa saat, sang guru menutup lembaran tugas siswanya.

Kemudian menundukkan kepalanya berdoa...

Mengucap syukur untuk gadis kecil pendiam di kelasnya yang telah mengajarkannya sebuah pelajaran hebat, yaitu:

Tidak perlu mencari sampai ke ujung bumi untuk menemukan keajaiban. Keajaiban itu ada di sekeliling kita untuk kita miliki dan tak lupa untuk kita syukuri...

Kalau Saja

Kalau yang diam kau remehkan, bikinlah perahu agar di dalam banjir nanti kau tak tenggelam.

Kalau yang tak terlihat oleh pandanganmu kau tiadakan, bersiaplah jatuh tertabrak olehnya.

Kalau yang kecil kau remehkan, bersiaplah dengan kekerdilanmu di genggaman kebesarannya.

Kalau yang terselubung kau anggap gelap, bersiaplah silau akan cahayanya saat selubung itu disingkap.

Kalau yang benar terus kau sesatkan, maka bersiaplah kau disesatkan oleh Sang Pemilik Kebenaran.

Kalau yang hina terus kau puja, maka bersiaplah kau terhina karena pujaanmu.

Kalau yang lemah terus kau tindas, maka bersiaplah terpelanting oleh kekuatan kesabarannya.

Senantiasa Tawadhu’ Sehebat Apapun Amalanmu

Berkata al-Imām Ibnu Qayyim rahimahullah :

"Jika Allah membukakan untukmu pintu shalat malam, janganlah kau memandang orang yang tidur dengan pandangan merendahkan."

"Jika Allah membukakan untukmu pintu puasa, jangan kau memandang orang yang tak berpuasa dengan pandangan merendahkan."

"Jika Allah membukakan untukmu pintu jihad, jangan kau memandang orang yang tak berjihad dengan pandangan merendahkan."

"Bisa saja orang yang tidur, yang tak berpuasa dan yang tak berjihad lebih dekat kepada Allah ketimbang dirimu."

"Sungguh, jika engkau tidur di malam hari kemudian di pagi harinya engkau bangun dalam keadaan penyesalan (dengan memohon ampun dari segala yang telah diperbuat) itu lebih baik, dari pada engkau bermalam kemudian bangun di pagi hari dalam keadaan 'ujub (berbangga dengan diri dan amalan). Karena orang yang 'ujub, tidak akan naik ke sisi Allah dari amalannya."

Wallahu'alam bishawab ...

Suara Hati (2)


Adakah yang lebih bening dari suara hati,
kala ia menegur kita tanpa suara.
Adakah yang lebih jujur dari nurani,
saat ia menyadarkan kita tanpa kata kata.
Adakah yang lebih tajam dari mata hati,
ketika ia menghentak kita dari beragam kesalahan dan alpa.

Ya, sebenarnya saat yang paling indah dari seluruh putaran kehidupan ini adalah
saat kita mampu secara jujur dan tulus mendengar suara hati.

Dari sanalah banyak tindakan dan perilaku kita menemukan arahnya yang benar.
Dari sana amal amal dan segala proses kehidupan kita memiliki pijakannya yang kokoh:
niat dan orientasi yang lurus.
Begitulah Rasulullah menggambarkan, bahwa hati adalah panglima.
Bila ia benar dan sehat, sehat pula seluruh aktivitas fisik pemiliknya.
Sebaliknya, bila ia rusak, rusak pula segala tingkah laku fisiknya.

Suara Hati

Didalam hati kita, didasar sanubari kita yang paling dalam, ada kekuatan yang sangat perkasa, sekaligus sumber kedamaian yang tiada tara. Disanalah bersemayam fitrah dan jati diri ketundukan kita –juga setiap manusia- kepada Allah swt. Setiap manusia sejak kali pertama ditakdirkan ada, telah diikat dengan kepatuhan kepada tauhid, mengesakan Allah Yang Maha Esa.

Allah swt berfirman, “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak anak adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (QS Al-A’raf:172).

Fitrah kemusliman atau ketundukan itu merupakan warna asli dari keseluruhan tabiat fisik dan psikis kita. Fitrah, yang dengannya manusia dititahkan, memberi kita sensor diri dan pelita penerang jalan. Dalam batasan kemanusiaan, petunjuk itu diberikan oleh suara hati nurani yang jujur.

Dalam suatu kesempatan, Rasulullah pernah mengajarkan kepada seorang sahabat bagaimana cara sederhana menentukan sesuatu itu baik atau buruk: “istafti qalbaka”, mintalah fatwa kepada hatimu.

Atau dalam kesempatan yang lain ia mengatakan, bahwa barang siapa yang amal baiknya mambuat hatinya suka, dan amal buruknya membuat ia gelisah maka dia itu muslim.

Dalam banyak hal, semestinya orang bisa bertanya kepada hati nuraninya apakah sesuatu itu baik atau buruk. Manusia diberi kemampuan untuk mengetahui secara standard apa saja yang layak atau tidak untuk dijalani. Manusia punya ukuran kepatutan kemanusiaannya. “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan.” (QS Asy-Syam:8).

Karenanya, manusia bilapun tidak mengerti banyak tentang ajaran wahyu Allah, semestinya ia masih bisa mendengar secara tulus apa suara hati nuraninya.

Jangan Panaskan Ulang Makanan Ini


6 Jenis Makanan Ini karena beberapa makanan bisa berubah komposisinya setelah dipanaskan ulang sehingga hilang kandungan gizinya, dan bahkan bisa menjadi beracun. Berikut ini makanan yang tidak dianjurkan untuk dihangatkan kembali:

Jamur

Masakan dengan bahan Jamur sebaiknya dimakan dengan segera ketika sudah dimasak, dan jika dibiarkan lama lebih baik memakannya pada kondisi dingin apa adanya, jangan dipanaskan ulang. Jika dipanaskan ulang, akan ada perubahan dalam komposisi proteinnya, dan bahkan ada perubahan rasa. Akibatnya dapat menyebabkan berbagai masalah pencernaan, dan kehilangan manfaat gizi yang terkandung pada jamur.

Ayam

Sama seperti jamur, jika dipanaskan ulang daging ayam akan berubah komposisi proteinnya. Oleh karena itu, jika anda ingin menghangatkannya kembali tidak dianjurkan memanaskan ulang pada suhu tinggi, cukup dengan api kecil dengan waktu singkat hingga masakan terasa cukup hangat.

Kentang

Kentang adalah makanan yang sangat bergizi yang tidak dianjurkan untuk dipanaskan ulang karena kandungan gizinya akan hilang, dan bahkan jika dipanaskan berulang-ulang kemungkinan akan menjadi beracun. Makan segera setelah dimasak atau makan dalam kondisi dingin tanpa perlu memanaskannya kembali.

Bayam

Bayam adalah makanan yang mengandung banyak nitrat, yang jika dipanaskan berulang kali akan mengubah kandungan nitrat menjadi nitrit. Nitrit berpotensi karsinogenik (zat pemicu kanker) bagi tubuh manusia, jadi sangat dianjurkan agar hanya memakan masakan bayam dalam kondisi segar, makanlah segera setelah masakan matang. Hindari makan masakan bayam yang sudah tersimpan lama, dan jangan menghangatkannya untuk dimakan ulang.

Seledri

Seledri paling sering digunakan untuk sup, seledri juga mengandung nitrat yang akan berubah jadi nitrit yang sifatnya karsinogenik (pemicu kanker) jika dipanaskan ulang. Jika anda ingin memanaskan ulang sup anda sebaiknya buang terlebih dahulu potongan-potongan seledrinya.

Telur

Telur adalah makanan berisiko tinggi jika dipanaskan ulang. Telur akan menjadi sangat beracun jika terkena paparan suhu tinggi secara berulang. Terutama telur yang dimasak dengan cara direbus atau dimasak dalam kondisi bulat dengan bagian kuningya tetap di dalam.

IKHLAS‎.

Sesuatu yang sulit namun harus kita lakukan didalam kehidupan dan penghidupan di dunia ini adalah IKHLAS.

Ikhlas itu…. Ketika nasehat, kritik dan bahkan fitnah, tidak mengendorkan amalmu dan tidak membuat semangatmu punah.

Ikhlas itu… Ketika hasil tak sebanding usaha dan harapan, tak membuatmu menyesali amal dan tenggelam dalam kesedihan. ‎

Ikhlas itu… Ketika amal tidak bersambut apresiasi sebanding, tak membuatmu urung bertanding.

Ikhlas itu… Ketika niat baik disambut berbagai prasangka, kamu tetap berjalan tanpa berpaling muka.

Ikhlas itu… Ketika sepi dan ramai, sedikit atau banyak, menang atau kalah, kau tetap pada jalan lurus dan terus melangkah.

Ikhlas itu… ketika kau lebih mempertanya kan apa amalmu dibanding apa posisi mu, apa peranmu dibanding apa kedudukanmu, apa tugasmu dibanding apa jabatanmu. ‎

Ikhlas itu.. ketika ketersinggungan pribadi tak membuat mu keluar dari barisan dan merusak tatanan.

Ikhlas itu… ketika posisimu di atas, tak membuatmu jumawa, ketika posisimu di bawah tak membuatmu enggan bekerja.

Ikhlas itu… ketika khilaf mendorongmu minta maaf, ketika salah mendorongmu berbenah, ketika tertinggal mendorongmu mempercepat kecepatan.

Ikhlas itu… ketika kebodohan orang lain terhadapmu, tidak kau balas dengan kebodohanmu terhadapnya, ketika kedzalimannya terhadapmu, tidak kau balas dengan kedzalimanmu terhadapnya.

Ikhlas itu… ketika kau bisa menghadapi wajah marah dengan senyum ramah, kau hadapi kata kasar dengan jiwa besar , dan ketika kau hadapi dusta dengan menjelaskan fakta dan data...

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‎ "Dan mereka tidak diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah dengan ikhlas dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan agar mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus."‎ ( QS. 98:5‎).