Muhammadiyah dan Islam Indonesia
Muhammadiyah sering disebut orang sebagai organisasi terbesar kedua setelah NU, walaupun dari segi usia Muhammadiyah itu lebih dahulu berdiri dibandingkan Nahdlatul Ulama. Muhammadiyah didirikan pada tahun 1912 oleh KH. Ahmad Dahlan dan kawan-kawan di Jogyakarta. Muhamadiyah ini pengikut ahlus sunnah waljamaah juga, tapi lebih menekankan pada pemurnian atau misi pokoknya adalah tajdid. Tajdid adalah pembaharuan. Apa yang dimaksud dengan pembaharuan Muhammadiyah itu adalah pemurnian, yaitu pemurnian dari apa yang disebut oleh KH Ahmad Dahlan sebagai TBC (Tahyul, Bid’ah dan Khurafat). Itu tujuan pokok dari Muhammadiyah sejak berdiri sampai sekarang.
Dilihat dari konteks tujuan Muhammadiyah itu, sebagai gerakan tajdid maka Muhammadiyah sesungguhnya sebuah organisasi Salafi yang menekankan Islam yang murni. Bahwa kaum muslimin itu harus menjauhkan diri dari tahyul, bid’ah dan khurafat dan hanya mengamalkan Islam yang murni.
Memang belakangan ini, kalau orang berbicara salafi, selalu disebut sebagai gerakan keras atau gerakan yang radikal. Disebut radikal karena ingin memurnikan Islam dengan cara-cara yang keras, seperti gerakan wahabiyah di Arabia pada pergantian abad 18-19. Tapi penting dicatat bahwa Muhammadiyah sebagai organisasi salafi tidak mengadopsi cara-cara kekerasan didalam upaya memurnikan Islam. Itu perbedaan yang paling pokok antara Muhamadiyah yang memiliki paham pemurnian Islam dengan gerakan-gerakan salafi lain termasuk wahabi.
Muhammadiyah tidak menempuh cara-cara kekerasan dalam memurnikan Islam, tetapi menempuh cara yang damai melalui pendidikan dan pelayanan sosial. Oleh karena itu sejak awal berdiri yang dilakukan Muhammadiyah adalah dalam upaya mendidik dan mencerdaskan. Memurnikan Islam melalui pelayanan sosial, seperti mendirikan rumah sakit, klinik, panti asuhan dan sekolah. Sekolah-sekolah Muhammadiyah malah meniru cara-cara modern. Sistem pendidikan yang diambil adalah sistem pendidikan Belanda. Muhamadiyah mendirikan sekolah model Belanda tapi memasukkan pelajaran agama Islam kedalam kurikulumnya.
Karena itu salah satu peranan penting Muhammadiyah adalah mendirikan cikal bakal lembaga pendidikan dan sekolah-sekolah yang sekarang ini dikenal sebagai sekolah Islam. Memang Muhammadiyah pada masa awalnya tidak mendirikan pesantren/madrasah, tapi yang didirikan itu sekolah-sekolah yang bisa kita sebut sebagai sekolah Islam, yaitu sekolah-sekolah Muhammadiyah.
Memang gerakan atau amal usaha Muhammadiyah dalam pendidikan sangat fenomenal. Saya sering mengatakan didalam berbagai konferensi terutama diluar negeri, bahwa Muhammadiyah sangat kaya dengan lembaga-lembaga pendidikan sejak dari taman kanak-kanak sampai ke perguruan tinggi. Muhammadiyah merupakan organisasi pendikan Islam terbesar didunia. Terutama untuk pendidikan umum, modern dan berbasiskan barat. Tentu saja disisi lain kita juga punya NU yang merupakan organisasi terbesar dengan kiyai-kiyainya yang memiliki pesantren dan madrasah yang jumlahnya juga terbesar diseluruh dunia.
Kita bersyukur dengan kehadiran Muhammadiyah yang saling melengkapi dengan NU. Muhammadiyah melahirkan ulama kitab putih. Lulusan sekolah-sekolah Muhammadiyah juga mengetahui/memahami dan bisa mendakwahkan Islam dan sering disebut sebagai ulama kitab putih. Sementara NU melahirkan ulama-ulama kitab kuning yang dibesarkan/dididik dilingkungan pesantren/madrasah. Kedua organisasi ini merupakan warisan yang sangat berharga/penting, tidak hanya bagi masa silam, tapi juga masa kini dan masa yang akan datang Indonesia.
Selasa, 07 Oktober 2014
Kelompok Aliran Dalam Islam (6)
Salafisme Sejati Menurut Abduh
Salafisme pada awalnya merupakan gerakan memperbaharui Islam, tapi dalam perkembangannya kini justru berbalik menjadi gerakan yang melawaskannya. Pada akhir abad 19 seorang ulama Mesir, Muhammad Abduh, menegaskan perlunya reformasi Islam dengan cara meneladani generasi muslim awal yang saleh (al-salaf al-shalih). Karena ia percaya bahwa Islam salafi pada hakekatnya adalah agama yang rasional. Tapi dalam beberapa dekade terakhir, salafisme tiba-tiba menjadi identik dengan Wahabisme, aliran puritanisme Islam yang lahir di Najd (Saudi) yang justru membredel peran akal dalam agama.
Sementara salafisme pertama menyerukan kembali ke periode perdana Islam yang murni dengan tujuan mem-“bumi”-kannya dalam konteks masa kini agar kaum muslim tidak gagap berhadapan dengan modernitas, salafisme kedua menyatakan kembali ke Islam masa salaf dengan cara me-“mumi”-kannya, seakan-akan masa depan umat adalah masa lalunya.
Agenda salafisme Abduh sejatinya bisa ditelusuri jejak awalnya pada pemikiran gurunya, Jamaluddin Al-Afghani, khususnya dalam polemiknya dengan Ernest Renan tentang Islam. Dalam satu ceramahnya di Sorbonne Paris pada 1883, filosof Perancis tersebut mencap Islam sebagai agama yang memusuhi sains dan pikiran modern, dan karena itu menjadi penghalang bagi kemajuan para pemeluknya.
Membantah Renan, Afghani menegaskan bahwa gejala yang disebut Renan sebagai antipati Islam terhadap sains tidak lain hanyalah praktek keislaman yang telah kehilangan otentisitasnya. Inilah yang membawa umat ke dalam keterbelakangan, yang pada akhirnya menyebabkan mereka mudah dimangsa imperialisme Barat. Afghani kemudian menlantunkan sikap anti imperialisme dengan bersandar pada Islam otentik, yakni Islam salafi yang memberi peran sentral pada akal dan menempatkan umat sebagai agensi yang aktif dalam mengubah nasibnya sendiri.
Seruan Afghani rupanya bergema kuat pada diri Muhammad Abduh, yang lalu memperjuangkan agenda pembaharuan Islam secara lebih sistematis. Baginya, pangkal penyebab keterbelakangan umat Islam selama berabad-abad adalah begitu berakarnya situasi jumud (beku) dalam benak kolektif mereka akibat merajalelanya taqlid, percaya begitu saja kepada otoritas agama dalam bentuk apapun tanpa sikap kritis.
Patut dicatat, taklid di sini tidak terbatas pada artinya yang sempit, yakni keterikatan secara dogmatis pada salah satu empat mazhab. Taklid yang dikecam Abduh lebih luas dari itu, yakni sikap membebek saja kepada tradisi, aturan dan pendapat ulama masa silam atau sekarang tanpa sikap kritis. Begitu kerasnya kecamannya terhadap taklid sampai ia menghubungkannya dengan tabiat orang-orang kafir yang ketika diseru untuk mengikuti kitab Allah lantas menjawab, “kami ikuti apa-apa yang kami dapat pada orang-orang tua kami.”
Hantaman Abduh kepada taklid ini erat kaitannya dengan keyakinannya bahwa Islam dalam bentuknya yang otentik, yakni tatkala doktrin agama ini belum dipergemuk dengan pelbagai ornamen dan pernik-pernik yang menempel padanya karena pengaruh perbedaan sekte teologi dan mazhab fiqh, niscaya sejalan dengan akal. Dalam Risalah al-Tauhid ia menulis bahwa baru dalam Islamlah: “akal dan agama bersaudara buat pertamakalinya dalam kitab suci.”
Inilah pengertian kembali ke al-salaf al-shalih menurut Abduh, yakni kembali ke generasi muslim awal sebelum perpecahan umat ke dalam sekte dan aliran yang beragam dan saling bertentangan. Dan Islam salafi baginya adalah Islam yag rasional.
Karena itulah Abduh percaya bahwa antara wahyu dan akal pada hakekatnya tidak mungkin ada pertentangan. Lantas bagaimana kalau keduanya selintas saling bertentangan? “Akal,” kata Abduh dalam Risalah, “mesti meyakini bahwa yang dimaksudkan bukanlah arti yang harfiah.” Di tempat lain ia berujar: “dalam kasus di mana terjadi konflik antara akal dan naql (teks Qur’an dan sunnah), maka yang dimenangkan adalah konklusi akal. Dan dalam menyikapi dalil naqli yang seperti ini terdapat dua pilihan. Pertama: membiarkannya seperti apa adanya sambil mengakui ketidakmampuan kita untuk memahaminya dan memasrahkan perkaranya pada Allah. Pilihan kedua: menafsirkan teks tersebut, dengan berpedoman pada kaidah bahasa, sedemikian rupa sehingga maknanya sesuai dengan kesimpulan akal” (Al-Islam wa Al-Nashraniyyah).
Dalam banyak kasus, Abduh tampaknya lebih condong pada pilihan kedua ini tercermin dalam fatwa-fatwanya ketika ia menjadi mufti agung di Mesir, seperti fatwa anti poligami. Menurutnya, poligami sudah membudaya sebelum Islam. Dan aturan Islam tentang poligami pada hakekatnya lebih bersifat membatasi ketimbang mengumbarnya. Bukankah ayat yang membolehkan beristri sampai empat mengandung syarat keadilan yang mesti dipenuhi suami. Padahal ayat lain menegaskan bahwa para suami tidak bakal bisa berbuat adil, meski mereka berusaha keras untuk itu. Situasi semacam ini, ditambah dengan observasi Abduh sendiri tentang banyaknya kasus penyalahgunaan poligami oleh kaum lelaki pada masanya, lantas mendorongnya untuk berfatwa melarang poligami. Alasannya demi menjaga mashlahah (kepentingan publik).
Penekanan Abduh pada peran sentral akal dalam Islam ini tak ayal membuatnya menuai tuduhan sesat, dianggap sebagai pengikut sekte mu’tazilah, dan seterusnya. Tapi sebenarnya salafisme Abduh tersebut terbit dari kemandiriannya dalam ber-ijtihad. Suatu kemandirian sikap yang dalam penilaian Profesor Harun Nasution dalam Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah (1987) bahkan lebih rasionalis ketimbang mu’tazilah.
Penggambaran Muhammad Abduh yang menampilkan salafisme sebagai Islam rasional barangkali terasa mengejutkan, mengingat kesan umum tentang salafisme sekarang ini justru ekstrim kebalikannya. Salafisme kini sering dinisbatkan dengan Wahabisme, model Islam yang dipraktekkan di Saudi Arabia. Faham yang dicetuskan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab pada akhir abad 18 ini mewajibkan kaum muslim untuk kembali kepada Qur’an dan hadits secara harfiah dan tidak memberi tempat pada akal.
Sebenarnya baru sejak dekade 70-an saja kaum Wahabi menyebut diri “salafi.”Pada awalnya, seperti dipaparkan Hamid Algar dalam Wahhabism: A Critical Essay (2002), kalangan Wahabi menamakan diri sebagai muwahhidun. Sebutan ini mengacu pada konsepsi mereka yang “radikal” tentang tauhid. Tauhid yang benar bagi mereka bukan hanya mengakui Allah sebagai Tuhan yang esa, melainkan juga kesediaan untuk menghambakan diri hanya kepadaNya.
Ketika Saudi Arabia, berkat berkah minyak, tiba-tiba menjadi negara petrodolar, terbukalah kesempatan bagi kaum Wahabi untuk mengekspor fahamnya ke seantero jagat muslim. Tapi para pengikut aliran ahlussunnah wal jama’ah di luar Saudi banyak yang menampiknya. Ini mendorong kaum Wahabi untuk mempermak citra mereka, di antaranya dengan melabeli diri sebagai Islam salafi. Mereka mengklaim sebagai pengikut Ibn Taimiyah, yang nota bene penganut mazhab Hanbali. Dari sinilah pengidentikan antara salafisme dengan Wahabisme bermula.
Secara selintas, memang terdapat kemiripan antara salafisme Wahabi dan salafisme Abduh. Keduanya sama-sama menjadikan Islam yang diamalkan generasi salaf yang salih sebagai model teladan, sama-sama merujuk langsung ke Qur’an dan sunnah ketimbang bersandar pada otoritas mazhab dan pendapat ulama, serta menekankan kemurnian tauhid. Tapi kemiripan tersebut hanya berhenti di situ saja. Itupun hanya sebatas pada kulit, karena sesungguhnya jurang pembeda antara keduanya nyaris tak terjembatani.
Ambillah contoh soal perbedaan antara Abduh dan kaum Wahabi perihal mazhab. Abduh menentang keterikatan secara ketat pada satu mazhab karena hal itu ia anggap identik dengan sikap taklid. Baginya, kaum muslim mesti punya kebebasan memilih pendapat yang secara argumen paling kuat dari mazhab-mazhab yang ada, dan berani melakukan ijtihad sendiri jika diperlukan. Artinya, yang ia tolak dari mazhab adalah tendensinya untuk menumpulkan sikap kritis dan rasional. Coba bandingkan dengan antipati kaum Wahabi terhadap mazhab. Di mata mereka, bermazhab sama dengan berpegang pada pendapat para ulama semata, yang nota bene melibatkan peran akal, dan bukan pada teks Qur’an dan hadits secara langsung.
Jadi, Abduh menolak mazhab karena dianggap mengurangi peran akal, sedangkan kaum Wahabi menolaknya semata-mata karena curiga dengan peran akal yang berlebihan di dalamnya.
Kontras yang lain juga bisa kita temukan dalam pandangan kedua kubu tentang tauhid. Bagi kaum Wahabi, tauhid berarti menghamba hanya terhadap Allah secara mutlak. Setiap perilaku yang mencerminkan ketundukan terhadap siapapun atau apapun selain Allah dianggap sama dengan syirk. Masalahnya, mereka mendefinisikan syirk secara sempit dan kaku, sampai-sampai hormat kepada bendera pun dikategorikan syirik. Tidak heran kalau kaum Wahabi lantas begitu mudah menyebut sesat pandangan lain di luar fahamnya. Anehnya, yang jadi ukuran adalah diri mereka sendiri, seperti diungkap oleh Sulaiman bin Abdul Wahhab, kakak kandung sang pendiri Wahabisme: Wa taj'alun mizan kufr al-nas mukhalafatakum wa mizan al-Islam muwafaqatakum" (kalian jadikan penentangan orang terhadap pendapat kalian sebagai ukuran kekafiran mereka dan persetujuannya terhadap pendapat kalian sebagai ukuran ke-Islam-an mereka).
Bandingkan dengan konsepsi Abduh tentang tauhid. Ia menulis: “Dalam hal iman kepada Allah, Islam bergantung hanya pada pembuktian rasional, bukan pada kejadian supernaturanl atau suara dari langit. Kaum Muslim umumnya sepakat bahwa urutan iman kepada Allah mendahului iman kepada Rasul. Karena itu, tidak tepat kalau dikatakan dasar iman kepada Allah mengacu pada risalah utusanNya. Justru sebaliknya, seseorang mesti beriman dulu pada Allah sebelum beriman kepada kenabian utusanNya.” (Al Islam wa al-Nashraniyyah). Kutipan barusan dengan jelas menunjukkan bahwa bagi Abduh, fundasi iman pada keesaan Allah justru bukan pertama-tama bersumber dari wahyu, melainkan dari hasil penalaran.
Pandangan semacam ini bertolak dari keyakinan Abduh bahwa kesempurnaan ajaran Islam bertaut erat dengan karakternya yang rasional. Dengan menarik ia menganalogikan perkembangan agama dengan perkembangan kemanusiaan dari fase kanak-kanak menjadi dewasa. Pada fase kanak-kanak, katanya dalam Risalah al-Tauhd, Tuhan menurunkan agama dalam bentuk perintah dan larangan, seperti halnya orang tua memperlakukan anaknya. Maka muncullah agama Yahudi. Ketika kemanusiaan menginjak remaja, agama baru yang turun memakai pendekatan kasih sayang untuk menyentuh hatinya. Maka turunlah agama Kristen. Dan tatkala kemanusiaan tumbuh dewasa, agama baru yang cocok dengan fase itu adalah agama yang berbicara kepadanya bukan hanya dengan perintah dan larangan, juga bukan hanya dengan kasih, melainkan terutama dengan akal. Dan itulah Islam.
Dengan kata lain, sementara salafisme Wahabi melancarkan takfir (pengkafiran), salafisme Abduh menggalakkan tafkir (pengaktifan pikiran).
Adanya pertentangan dua salafisme tersebut lantas membuat kita bertanya: apa hakekat islam salafi? Kaum Wahabi mengartikannya sebagai laku ngeblat generasi salaf, dengan menjadikan mereka sebagai model untuk dicontoh secara harfiah. Apapun yang berbeda dari pakem ngeblat mereka langsung dicap bid’ah. Di sini proses sejarah umat dilihat sebagai proses penyimpangan, lantaran menjauhkan Islam dari kemurniannya. Karena itu, Islam mesti dimurnikan kembali setiap saat. Artinya, bagi kaum Wahabi, masa depan umat Islam adalah masa lalu mereka.
Cara ngeblat seperti itu di mata Abduh tentu akan dikategorkan sebagai taklid, sesuatu yang justru bertentangan dengan tujuan utama kembali ke generasi salaf. Sebab menurutnya, meneladani salaf bertujuan untuk menemukan élan progresif Islam yang untuk waktu yang lama terkubur oleh kejumudan para pemeluknya.
Islam salafi yang rasional dari Abduh inilah yang menurut saya perlu lebih keras disuarakan sekarang. Itu kalau kaum muslim memang betul-betul hendak merealisasikan semboyan bahwa Islam adalah agama yang cocok untuk segala waktu dan tempat (sholihun li kulli zamanin wa makanin).
Kelompok Aliran Dalam Islam (5)
Hizbut Tahrir
Hizbut Tahrir di dirikan oleh Taqiyuddin an Nabhani yang pada awalnya adalah murid Hasan Al Banna. Hasan Al Banna adalah pendiri Ikhwanul Muslimin. Untuk mengenal Ikhwanul Muslimin bisa di baca di tulisan sebelumnya.
Dalam struktur Ikhwanul Muslimin ada lembaga bernama Tandhimul Jihad. Yaitu institusi jihad yang sangat rahasia. Tandhimul Jihad ini ikut perang melawan israel. Ketika perang Arab Israel 1948. Arab kalah dan negara Israel berdiri. Tandhimul Jihad pun kembali ke Mesir. Nah, Taqiyuddin an Nabhani adalah anggota Tandhimul Jihad. Ketika Hasan Al-Banna meninggal karena ditembak Pada 1949. Taqiyuddin terus berkampanye pada kelompoknya di Syria, Libanon dan Yordania. Tandhimul Jihad diambil alih Sayyid Quthub,
Sayid Quthub lalu mendatangi Taqiyuddin an Nabhani agar secara ideologi tetap di Ikhwanul Muslimin. Tapi Taqiyuddin menolak karena ia beranggapan bahwa Ikhwanul Muslimin sudah masuk lingkaran jahiliyah. Karena perbedaan arah dan perjuangan itulah, maka Taqiyuddin An Nabhani keluar dari Ikhwanul Muslimin dan mendirikan Hizbut Tahrir. Perbedaannya adalah penolakannya terhadap konsep Demokrasi serta tekanannya terhadap paham kekhalifahan.
Hizbut Tahrir mengusung ide Pan-Islamisme yang bertujuan mengembalikan supremasi Islam pada abad pertengahan. Dalam bentuk mendirikan pemerintah Islam secara internasional, sistem kekhalifahan. Jaringan Hizbut Tahrir bersifat internasional. Setiap negara mempunyai wakil representasinya. Wilayah pengembangan utama Hizbut Tahrir adalah negara-negara Asia tengah seperti Uzbekistan, Tajikistan, Kazakhstan. Di samping itu Hizbut Tahrir juga kuat di Asia Selatan, terutama Bangladesh dan Pakistan.
Bagaimana Hizbut Tahrir bisa masuk ke Indonesia? Di sinyalir ide-ide Hizbut Tahrir masuk ke Indonesia sejak 1972 dan berkembang secara lamban dari halaqah-halaqah. Dan menjadi intensif ketika Abdurahman Albagdadi, seorang aktivis Hizbut Tahrir dari Australia menetap di Bogor pada sekitar 1982-1983.
Tujuan Albaghdadi awalnya semata untuk membantu mengajar di pesantren Al Ghazali Bogor. Saat itulah, Abdurahman Albagdadi mulai berinteraksi dengan para aktivis masjid kampus dari Mesjid Al-Ghifari, IPB Bogor. Dari sini para aktivis kampus inilah yang mulai menyebarkan gagasan HT. Melalui jaringan LDK sampai menyebar ke kampus-kampus di luar Bogor. Hasil didikan Albaghdadi diantaranya adalah Ismail Yusanto, Jubir Hizbut Tahrir Indonesia.
Di Indonesia Hizbut Tahrir kini berkembang cukup pesat. Bahkan Indonesia telah menjadi simpul gerakan Hizbut Tahrir di Asia Tenggara. Perlu di ketahui, metode perjuangan yang di pakai Hizbut Tahrir melalui 3 tahap kaderisasi, sosialisasi dan merebut kekuasaan. Saat ini Hizbut Tahrir Indonesia sedang berada dalam tahap konsolidasi (marhalah tafa'ul ma'a al ummah). Namun Thalabun Nusrah (mencari dukungan, pertolongan) sebagai salah satu ciri perjuangan HTI tahap kedua, sedang di praktekkan di Indonesia. Mendekati politisi, pemegang kekuasaan, militer, tokoh agama dalam rangka melancarkan coup de etat damai (revolusi damai).
Di gelarnya konferensi khilafah di berbagai daerah termasuk di Jakarta beberapa waktu lalu, sebagai aksi show of force di Indonesia. Organisasi ini memproklamirkan diri sebagai partai politik yang berideologi Islam namun menolak bergabung dengan sistem yang ada. Penolakan ini merupakan bentuk baku dari HT internasional. Bagi Hizbut Tahrir ideologi yang benar adalah yang di kontruksi dari Islam. Dan bentuk negara yang senapas dengan Islam, menurut Hizbut Tahrir hanyalah Daulah Khilafah Islamiyah.
Meski dalam jangka panjang HTI bercita-cita mewujudkan imperium Islam dalam kerangka Daulah Khilafah Islamiyah. Sejauh ini HTI menggunakan ideologi itu sebatas sebagai paradigma kritik. Meskipun demikian perkembangannya harus di waspadai karena HTI memiliki agresivitas dalam rekruitmen dan propaganda. Apalagi dalam sejarahnya Hizbut Tahrir juga pernah terlibat KUDETA di negara-negara Timur Tengah.
Hizbut Tahrir pernah melakukan penyusupan ketubuh Militer Yordania pada tahun 1969 dalam upaya menggulingkan kekuasaan (kudeta) Raja Husen. Sehingga sebagian anggota Hizbut Tahrir diajukan ke pengadilan dan dihukum mati. Sampai sekarang Hizbut Tahrir masih menjadi organisasi terlarang di Yordania. Hal yang sama dilakukan pada tahun 1971. Penyusupan ke tubuh militer oleh Hizbut Tahrir juga dilakukan di Irak pada tahun 1972. Usaha kudeta ini mengalami kegagalan.
Sejumlah upaya kudeta dan pembunuhan politik di Mesir, Jordania, Tunisia, dan beberapa negara Timur Tengah lainnya pada dekade 1970-an ditengarai melibatkan aktivis Hizbut Tahrir. Kudeta di Mesir tahun 1974 yang melibatkan Salih Sirriyah dan pembunuhan Anwar Saddat 1984, diduga melibatkan aktivis Hizbut Tahrir. Kegagalan berturut-turut dalam sejumlah perebutan kekuasaan tersebut menyebabkan perkembangan gerakan HT semakin menurun di Timur Tengah. Namun, Hizbut Tahrir tampaknya bersikukuh dengan garis politiknya untuk bergerak. Metode perjuangan tidak boleh dikompromikan.
Situasi Hizbut Tahrir di Timur Tengah yang bergerak secara underground berbeda dengan Hizbut Tahrir di Indonesia yang bergerak secara leluasa. Saat ini, sasaran 'dakwah' HTI adalah masjid-masjid di sekolah, rumah sakit, kampus, bahkan masjid jami' kabupaten. Hizbut Tahrir memang tidak merubah tatacara ibadah di masjid tersebut, tapi menginfiltrasi dengan ide-ide 'makar' terhadap NKRI.
Anehnya, beberapa kali aktivis Hizbut Tahrir seperti Felixsiauw bisa mengisi progam acara di TVRI. HTI yang nyata-nyata menolak nasionalisme menyelenggarakan konferensi khilafah di Gelora Bung Karno bahkan di tayangkan TVRI.
Ini sebenarnya juga terjadi di daerah-daerah, Tema-nya mencari format kepemimpinan umat. isinya mengajak menolak demokrasi. Bahkan HTI pernah mengadakan acara di gedung-gedung milik Pemerintah. Modusnya peringatan hari besar Islam tapi isinya mengajak Khilafah. Sekian dulu, nanti saya juga ingin membahas kembali tentang Salafi Sejati menurut Muhammad Abduh, dan juga 2 ormas islam terbesar di Indonesia: Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.
Hizbut Tahrir di dirikan oleh Taqiyuddin an Nabhani yang pada awalnya adalah murid Hasan Al Banna. Hasan Al Banna adalah pendiri Ikhwanul Muslimin. Untuk mengenal Ikhwanul Muslimin bisa di baca di tulisan sebelumnya.
Dalam struktur Ikhwanul Muslimin ada lembaga bernama Tandhimul Jihad. Yaitu institusi jihad yang sangat rahasia. Tandhimul Jihad ini ikut perang melawan israel. Ketika perang Arab Israel 1948. Arab kalah dan negara Israel berdiri. Tandhimul Jihad pun kembali ke Mesir. Nah, Taqiyuddin an Nabhani adalah anggota Tandhimul Jihad. Ketika Hasan Al-Banna meninggal karena ditembak Pada 1949. Taqiyuddin terus berkampanye pada kelompoknya di Syria, Libanon dan Yordania. Tandhimul Jihad diambil alih Sayyid Quthub,
Sayid Quthub lalu mendatangi Taqiyuddin an Nabhani agar secara ideologi tetap di Ikhwanul Muslimin. Tapi Taqiyuddin menolak karena ia beranggapan bahwa Ikhwanul Muslimin sudah masuk lingkaran jahiliyah. Karena perbedaan arah dan perjuangan itulah, maka Taqiyuddin An Nabhani keluar dari Ikhwanul Muslimin dan mendirikan Hizbut Tahrir. Perbedaannya adalah penolakannya terhadap konsep Demokrasi serta tekanannya terhadap paham kekhalifahan.
Hizbut Tahrir mengusung ide Pan-Islamisme yang bertujuan mengembalikan supremasi Islam pada abad pertengahan. Dalam bentuk mendirikan pemerintah Islam secara internasional, sistem kekhalifahan. Jaringan Hizbut Tahrir bersifat internasional. Setiap negara mempunyai wakil representasinya. Wilayah pengembangan utama Hizbut Tahrir adalah negara-negara Asia tengah seperti Uzbekistan, Tajikistan, Kazakhstan. Di samping itu Hizbut Tahrir juga kuat di Asia Selatan, terutama Bangladesh dan Pakistan.
Bagaimana Hizbut Tahrir bisa masuk ke Indonesia? Di sinyalir ide-ide Hizbut Tahrir masuk ke Indonesia sejak 1972 dan berkembang secara lamban dari halaqah-halaqah. Dan menjadi intensif ketika Abdurahman Albagdadi, seorang aktivis Hizbut Tahrir dari Australia menetap di Bogor pada sekitar 1982-1983.
Tujuan Albaghdadi awalnya semata untuk membantu mengajar di pesantren Al Ghazali Bogor. Saat itulah, Abdurahman Albagdadi mulai berinteraksi dengan para aktivis masjid kampus dari Mesjid Al-Ghifari, IPB Bogor. Dari sini para aktivis kampus inilah yang mulai menyebarkan gagasan HT. Melalui jaringan LDK sampai menyebar ke kampus-kampus di luar Bogor. Hasil didikan Albaghdadi diantaranya adalah Ismail Yusanto, Jubir Hizbut Tahrir Indonesia.
Di Indonesia Hizbut Tahrir kini berkembang cukup pesat. Bahkan Indonesia telah menjadi simpul gerakan Hizbut Tahrir di Asia Tenggara. Perlu di ketahui, metode perjuangan yang di pakai Hizbut Tahrir melalui 3 tahap kaderisasi, sosialisasi dan merebut kekuasaan. Saat ini Hizbut Tahrir Indonesia sedang berada dalam tahap konsolidasi (marhalah tafa'ul ma'a al ummah). Namun Thalabun Nusrah (mencari dukungan, pertolongan) sebagai salah satu ciri perjuangan HTI tahap kedua, sedang di praktekkan di Indonesia. Mendekati politisi, pemegang kekuasaan, militer, tokoh agama dalam rangka melancarkan coup de etat damai (revolusi damai).
Di gelarnya konferensi khilafah di berbagai daerah termasuk di Jakarta beberapa waktu lalu, sebagai aksi show of force di Indonesia. Organisasi ini memproklamirkan diri sebagai partai politik yang berideologi Islam namun menolak bergabung dengan sistem yang ada. Penolakan ini merupakan bentuk baku dari HT internasional. Bagi Hizbut Tahrir ideologi yang benar adalah yang di kontruksi dari Islam. Dan bentuk negara yang senapas dengan Islam, menurut Hizbut Tahrir hanyalah Daulah Khilafah Islamiyah.
Meski dalam jangka panjang HTI bercita-cita mewujudkan imperium Islam dalam kerangka Daulah Khilafah Islamiyah. Sejauh ini HTI menggunakan ideologi itu sebatas sebagai paradigma kritik. Meskipun demikian perkembangannya harus di waspadai karena HTI memiliki agresivitas dalam rekruitmen dan propaganda. Apalagi dalam sejarahnya Hizbut Tahrir juga pernah terlibat KUDETA di negara-negara Timur Tengah.
Hizbut Tahrir pernah melakukan penyusupan ketubuh Militer Yordania pada tahun 1969 dalam upaya menggulingkan kekuasaan (kudeta) Raja Husen. Sehingga sebagian anggota Hizbut Tahrir diajukan ke pengadilan dan dihukum mati. Sampai sekarang Hizbut Tahrir masih menjadi organisasi terlarang di Yordania. Hal yang sama dilakukan pada tahun 1971. Penyusupan ke tubuh militer oleh Hizbut Tahrir juga dilakukan di Irak pada tahun 1972. Usaha kudeta ini mengalami kegagalan.
Sejumlah upaya kudeta dan pembunuhan politik di Mesir, Jordania, Tunisia, dan beberapa negara Timur Tengah lainnya pada dekade 1970-an ditengarai melibatkan aktivis Hizbut Tahrir. Kudeta di Mesir tahun 1974 yang melibatkan Salih Sirriyah dan pembunuhan Anwar Saddat 1984, diduga melibatkan aktivis Hizbut Tahrir. Kegagalan berturut-turut dalam sejumlah perebutan kekuasaan tersebut menyebabkan perkembangan gerakan HT semakin menurun di Timur Tengah. Namun, Hizbut Tahrir tampaknya bersikukuh dengan garis politiknya untuk bergerak. Metode perjuangan tidak boleh dikompromikan.
Situasi Hizbut Tahrir di Timur Tengah yang bergerak secara underground berbeda dengan Hizbut Tahrir di Indonesia yang bergerak secara leluasa. Saat ini, sasaran 'dakwah' HTI adalah masjid-masjid di sekolah, rumah sakit, kampus, bahkan masjid jami' kabupaten. Hizbut Tahrir memang tidak merubah tatacara ibadah di masjid tersebut, tapi menginfiltrasi dengan ide-ide 'makar' terhadap NKRI.
Anehnya, beberapa kali aktivis Hizbut Tahrir seperti Felixsiauw bisa mengisi progam acara di TVRI. HTI yang nyata-nyata menolak nasionalisme menyelenggarakan konferensi khilafah di Gelora Bung Karno bahkan di tayangkan TVRI.
Ini sebenarnya juga terjadi di daerah-daerah, Tema-nya mencari format kepemimpinan umat. isinya mengajak menolak demokrasi. Bahkan HTI pernah mengadakan acara di gedung-gedung milik Pemerintah. Modusnya peringatan hari besar Islam tapi isinya mengajak Khilafah. Sekian dulu, nanti saya juga ingin membahas kembali tentang Salafi Sejati menurut Muhammad Abduh, dan juga 2 ormas islam terbesar di Indonesia: Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.
Kelompok Aliran Dalam Islam (4)
Penyebaran Salafi Jihadi di Indonesia.
Sekarang saya bahas tentang kelompok Jihadi. Adakah Hubungannya kelompok ini dengan dengan Gerakan Salafi dan Ikhwan?.
Mewabahnya gerakan Jihadi di picu perang Afganistan. Perang ini telah mengundang solidaritas kaum muslim dari berbagai negara Islam. Para mujahid itu kemudian mengembangkan suatu strategi dan metode perjuangan tersendiri. Perjuangan yang berbeda dengan gerakan Islam di negara asalnya. Meskipun demikian bahan baku utama gerakan ini terutama berasal dari gerakan Salafi Haroki dan Ikhwan Quthbiyah. Tentang Salafi Haroki dan Ihwan Quthbiyah sudah dibahas dalam tulisan sebelumnya.
Doktrin gerakan Jihadi adalah buah perkawinan antara konsep keislaman Salafi Haroki dan pemahaman keislaman Ikhwan Quthbiyah. Pemikir besarnya adalah 1. Abdullah Azzam, 2. dr. Ayman Al Zawahiri, 3. Abu Muhammad Al Maqdisy.
Dengan terbentuknya doktrin, strategi dan metode perjuangan sendiri, maka gerakan Jihadi pada akhirnya semakin menemukan bentuknya, yang dapat di bedakan dengan ikhwan atau salafi, 2 gerakan yang menjadi bahan baku utama gerakan ini. Pertemuan antara pengikut Ikhwan Quthbiyah dan Salafi Haroki inilah yang menjadi tiang utama gerakan Jihadi. Saya istilahkan Gerakan Jihadi ini adalah anak haram dari hasil hubungan gelap antara Islam Salafi dan gerakan Islam Ikhwan.
Pengikut gagasan ini sebagian besar adalah alumni Afghanistan, Moro dan Chechnya. Agenda utamanya Jihad Global. Jika di runut kebelakang munculnya Al Qaeda berawal dari peran Rabhitah Alam Islami (Liga Muslim se-dunia) dan Ikhwanul Muslimin.
Dua organisasi tersebut mendirikan Maktab al Khidmah (kantor pelayanan) bagi para pejuang mujahidin di Afghanistan yang di pimpin abdullah azzam. Maktab al Khidmah ini kemudian berkembang menjadi Maktab al Bayyinat (kantor informasi).
Maktab al Bayyinat berfungsi juga menerima bantuan dari para dermawan muslim. Maktab ini memiliki database para pejuang mujahidin di seluruh dunia yang berjuang di Afganistan. Maktab ini juga memiliki banyak cabang di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat.
Maktab ini melaksanakan misi pelatihan kemiliteran dan mengatur teknis dan jadwal keberangkatan ke medan pertempuran di Afganistan. Setelah Abdullah Azzam terbunuh, Osama bin Laden kemudian mengendalikan Maktab al Bayyinat. Osama bin Laden kemudian mendesainnya menjadi sebuah pusat data untuk para mujahidin Afghanistan. Sehingga di kenal dengan nama Al Qaeda (Qaidatul Bayanat). Dengan adanya database tersebut, maka Osama bin Laden dapat mengendalikan berbagai kelompok salafi di seluruh dunia. FYI: Osama bin Laden dulu adalah anggota Ikhwanul Muslimin Arab Saudi.
Aiman Az-Zhawahiri menyebutkan, Osama bin Laden keluar dari IM sebelum pergi ke Afghanistan melawan Uni Soviet. Interaksi kepentingan dan budaya serta ideologi secara internasional di Afganistan telah membangun kesamaan semangat, visi, strategi tujuan perjuangan gerakan Jihadi untuk menegakkan Daulah Islamiyah, Khilafah Islamiyah dan Formalisasi syariat Islam serta bersikap anti barat.
Kelompok Jihadi ini ingin mendirikan negara islam di Afghanistan (Taliban) untuk membangun Khilafah Islamiyah. Strategi untuk mendirikan negara Islam, pada hakekatnya sejalan dengan cita-cita Salafi Haroki, Ikhwanul Muslimin, dan Hizbut Tahrir.
Bagaimana dengan gerakan jihadi ini di Indonesia? Bahan baku gerakan jihadi di Indonesia terutama berasal dari Darul islam faksi Abdullah Sungkar. Dalam konteks rekruitmen dan pematangan jihad, Abdullah sungkar dan Abu Bakar Baasyir merupakan tokoh kunci.
Jumlah mereka yang pernah di kirim ke Afgan atau Moro telah mencapai ratusan mujahid. Mereka inilah yang kini mentransmisikan pemikiran-pemikiran Jihadi. Termasuk strategi dan taktik perjuangan di kalangan masyarakat Islam Indonesia. Basis pendukung gerakan Jihadi umumnya masih didominasi pengikut Darul Islam. Khususnya alumni Afganistan dan Moro.
Gerakan Jihadi di Indonesia menamakan diri Jamaah Islamiyah yang merupakan jaringan Salafi Haroki. Abu Bakr Ba'asyir merupakan figur yang berideologi salafi haroki dan memiliki jaringan dengan lembaga-lembaga Salafi, Al haramain dan As Shofwa.
Gerakan Jihadi tentu sangat berbahaya, kejadian penggerebekan teroris Ciputat pada tahun baru 2014 telah membuka rencana teror mereka. Mereka berenca akan meledakkan beberapa kantor kedutaan asing dan beberapa tempat ibadah di Indonesia.
Di timur tengah, seperti di Irak gerakan Jihadi tidak hanya mengancam barat tapi juga sesama kaum muslim yang berbeda aliran. Para peziarah kaum syi'ah sering menjadi sasaran teror bom yang di lakukan oleh gerakan Jihadi.
Saya tidak bisa membayangkan jika benih-benih gerakan Jihadi ini tumbuh subur di negeri ini. bisa-bisa suatu saat merayakan Maulid Nabi di bom. Ada kelompok memperingati kematian ulama seperti haul di bom, ada tahlilan di Bom, makam-makam auliya' di bom. Naudzubillah.
Indikasi ini sudah ada, seperti beberapa waktu lalu makam cucu Sri Sultan Hamengku Buwono VI, dirusak sekelompok orang. Di coreti syirik. Bukan tidak mungkin, makam-makam Sunan yang bertebaran di tanah Jawa yang ramai oleh peziarah akan menjadi sasaran berikutnya. Maka dari itu, kita tidak boleh lengah dengan keberadaan gerakan Jihadi ini, dengan mengenali ciri-ciri dasar paham keagamaan gerakan ini. Sekian dulu nanti dilanjutkan dengan pembahasan tentang Hizbut Tahrir.
Sekarang saya bahas tentang kelompok Jihadi. Adakah Hubungannya kelompok ini dengan dengan Gerakan Salafi dan Ikhwan?.
Mewabahnya gerakan Jihadi di picu perang Afganistan. Perang ini telah mengundang solidaritas kaum muslim dari berbagai negara Islam. Para mujahid itu kemudian mengembangkan suatu strategi dan metode perjuangan tersendiri. Perjuangan yang berbeda dengan gerakan Islam di negara asalnya. Meskipun demikian bahan baku utama gerakan ini terutama berasal dari gerakan Salafi Haroki dan Ikhwan Quthbiyah. Tentang Salafi Haroki dan Ihwan Quthbiyah sudah dibahas dalam tulisan sebelumnya.
Doktrin gerakan Jihadi adalah buah perkawinan antara konsep keislaman Salafi Haroki dan pemahaman keislaman Ikhwan Quthbiyah. Pemikir besarnya adalah 1. Abdullah Azzam, 2. dr. Ayman Al Zawahiri, 3. Abu Muhammad Al Maqdisy.
Dengan terbentuknya doktrin, strategi dan metode perjuangan sendiri, maka gerakan Jihadi pada akhirnya semakin menemukan bentuknya, yang dapat di bedakan dengan ikhwan atau salafi, 2 gerakan yang menjadi bahan baku utama gerakan ini. Pertemuan antara pengikut Ikhwan Quthbiyah dan Salafi Haroki inilah yang menjadi tiang utama gerakan Jihadi. Saya istilahkan Gerakan Jihadi ini adalah anak haram dari hasil hubungan gelap antara Islam Salafi dan gerakan Islam Ikhwan.
Pengikut gagasan ini sebagian besar adalah alumni Afghanistan, Moro dan Chechnya. Agenda utamanya Jihad Global. Jika di runut kebelakang munculnya Al Qaeda berawal dari peran Rabhitah Alam Islami (Liga Muslim se-dunia) dan Ikhwanul Muslimin.
Dua organisasi tersebut mendirikan Maktab al Khidmah (kantor pelayanan) bagi para pejuang mujahidin di Afghanistan yang di pimpin abdullah azzam. Maktab al Khidmah ini kemudian berkembang menjadi Maktab al Bayyinat (kantor informasi).
Maktab al Bayyinat berfungsi juga menerima bantuan dari para dermawan muslim. Maktab ini memiliki database para pejuang mujahidin di seluruh dunia yang berjuang di Afganistan. Maktab ini juga memiliki banyak cabang di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat.
Maktab ini melaksanakan misi pelatihan kemiliteran dan mengatur teknis dan jadwal keberangkatan ke medan pertempuran di Afganistan. Setelah Abdullah Azzam terbunuh, Osama bin Laden kemudian mengendalikan Maktab al Bayyinat. Osama bin Laden kemudian mendesainnya menjadi sebuah pusat data untuk para mujahidin Afghanistan. Sehingga di kenal dengan nama Al Qaeda (Qaidatul Bayanat). Dengan adanya database tersebut, maka Osama bin Laden dapat mengendalikan berbagai kelompok salafi di seluruh dunia. FYI: Osama bin Laden dulu adalah anggota Ikhwanul Muslimin Arab Saudi.
Aiman Az-Zhawahiri menyebutkan, Osama bin Laden keluar dari IM sebelum pergi ke Afghanistan melawan Uni Soviet. Interaksi kepentingan dan budaya serta ideologi secara internasional di Afganistan telah membangun kesamaan semangat, visi, strategi tujuan perjuangan gerakan Jihadi untuk menegakkan Daulah Islamiyah, Khilafah Islamiyah dan Formalisasi syariat Islam serta bersikap anti barat.
Kelompok Jihadi ini ingin mendirikan negara islam di Afghanistan (Taliban) untuk membangun Khilafah Islamiyah. Strategi untuk mendirikan negara Islam, pada hakekatnya sejalan dengan cita-cita Salafi Haroki, Ikhwanul Muslimin, dan Hizbut Tahrir.
Bagaimana dengan gerakan jihadi ini di Indonesia? Bahan baku gerakan jihadi di Indonesia terutama berasal dari Darul islam faksi Abdullah Sungkar. Dalam konteks rekruitmen dan pematangan jihad, Abdullah sungkar dan Abu Bakar Baasyir merupakan tokoh kunci.
Jumlah mereka yang pernah di kirim ke Afgan atau Moro telah mencapai ratusan mujahid. Mereka inilah yang kini mentransmisikan pemikiran-pemikiran Jihadi. Termasuk strategi dan taktik perjuangan di kalangan masyarakat Islam Indonesia. Basis pendukung gerakan Jihadi umumnya masih didominasi pengikut Darul Islam. Khususnya alumni Afganistan dan Moro.
Gerakan Jihadi di Indonesia menamakan diri Jamaah Islamiyah yang merupakan jaringan Salafi Haroki. Abu Bakr Ba'asyir merupakan figur yang berideologi salafi haroki dan memiliki jaringan dengan lembaga-lembaga Salafi, Al haramain dan As Shofwa.
Gerakan Jihadi tentu sangat berbahaya, kejadian penggerebekan teroris Ciputat pada tahun baru 2014 telah membuka rencana teror mereka. Mereka berenca akan meledakkan beberapa kantor kedutaan asing dan beberapa tempat ibadah di Indonesia.
Di timur tengah, seperti di Irak gerakan Jihadi tidak hanya mengancam barat tapi juga sesama kaum muslim yang berbeda aliran. Para peziarah kaum syi'ah sering menjadi sasaran teror bom yang di lakukan oleh gerakan Jihadi.
Saya tidak bisa membayangkan jika benih-benih gerakan Jihadi ini tumbuh subur di negeri ini. bisa-bisa suatu saat merayakan Maulid Nabi di bom. Ada kelompok memperingati kematian ulama seperti haul di bom, ada tahlilan di Bom, makam-makam auliya' di bom. Naudzubillah.
Indikasi ini sudah ada, seperti beberapa waktu lalu makam cucu Sri Sultan Hamengku Buwono VI, dirusak sekelompok orang. Di coreti syirik. Bukan tidak mungkin, makam-makam Sunan yang bertebaran di tanah Jawa yang ramai oleh peziarah akan menjadi sasaran berikutnya. Maka dari itu, kita tidak boleh lengah dengan keberadaan gerakan Jihadi ini, dengan mengenali ciri-ciri dasar paham keagamaan gerakan ini. Sekian dulu nanti dilanjutkan dengan pembahasan tentang Hizbut Tahrir.
Kelompok Aliran Dalam Islam (3)
Penyebaran Ikhwanul Muslimin di Indonesia.
Sebelumnya ketika membahas Salafi, saya membagi Salafi yang masuk di Indonesia menjadi 3; Salafi Wahabi, Salafi Haroki/Sururi dan Salafi Jihadi. Salafi Wahabi dan Salafi Haroki/Sururi sudah saya bahas, tinggal Salafi Jihadi. Salafi Jihadi akan saya bahas setelah bagian Ikhwanul Muslimin (IM)yang akan aku bincangkan sebentar lagi. Bahasan soal kelompok Salafi Jihadi akan masuk dalam bagian tulisan Kelompok JIHADI (Salafi Jihadi & Ikhwan Quthbiyah). Nanti setelah IM.
Pada awal tahun 1962, paman Gus Dur dari garis Ibunya, Aziz Bisri sempat mendorong Gus Dur untuk mendirikan Cabang Ikhwanul Muslimin. Azis Bisri adalah adik laki-laki Solichah, Ibu Gus Dur. Ia salah seorang pengagum Ikhwanul Muslimin kala itu. Gus Dur sempat mempertimbangkan usulan itu, namun usaha itu segera terputus, karena ke Kairo untuk melanjutkan Study pada bulan November 1963. Dan di Kairo Gus Dur pada akhirnya menentukan posisinya terhadap ide-idenya.
Ikhwanul Muslimin, di dirikan oleh Hasan Al Banna pada tahun 1928, dua tahun setelah Nahdlatul Ulama, NU berdiri pada tahun 1926. Berbeda dengan Salafi/Wahabi yang non politik, Ikhwanul Muslimin sangat kental dengan perjuangan politik.
Dalam hal amaliah dan teologinya Salafi dan Ikhwanul Muslimin cukup berbeda. Salafi tidak mengenal Dzikiran, maulid nabi atau tawasul dsj. Dalam Ikhwanul Muslimin masih ada dzikir, Maulid Nabi dan amalan-amalan seperti halnya NU. Paling tidak, Ikhwanul Muslimin tidak mengharamkannya.
Dalam perjuangan politiknya, Ikhwanul Muslimin menerima sistem demokrasi dan nasionalisme. Yang penting kehidupan syariat Islam berjalan dalam suatu negara, dan berusaha menegakkannya dalam suatu negara. Oleh karena itu, perlu melakukan jalur politik kekuasaan dengan membentuk partai politik dan ormas. Kekuatan utama gerakan ini adalah pembentukan kelompok pengajian2 (halaqah) kecil yang mengimplementasikan ajaran "Islam Kafah".
Gerakan Ikhwanul Muslimin dalam perkembangannya terbelah dalam 2 Arus besar.
Pertama, Madrasah Hudaybiyah. IM Madrasah Hudaybiyah (Tarbiyah/Formal) merupakan resmi gerakan IM yang komando gerakannya berada di tangan Mursyid Am di Mesir.
Kedua, Madrasah Quthbiyah (Radikal, tidak akomodatif). Gerakan ini mengembangkan jaringan jihad global.
Perpecahan ini sudah dimulai sejak meninggalnya Hasan Al Banna. Pada 1949 Hasan Al-Banna meninggal karena ditembak agen pemerintah.
Ikhwan Hudaybiyah merupakan Ikhwan versi resmi. Secara internasional dikendalikan oleh Mursyid Am. Ikhwan Hudaybiyah tidak terlalu radikal. Ikhwan Hudaybiyah tetap mau menerima sebagian sistem modern, seperti partai politik, organisasi dsb. Namun dalam hal cita-cita politik Islam, mereka tidak pernah kompromi. Seperti halnya saat ini yang terjadi pergolakan di Mesir.
Kalau mereka mau menerima sistem sekuler, pada dasarnya hanyalah bersifat temporal. Tujuannya utamanya tetap, yaitu Daulah Islamiyah. Namun cara yang di tempuh bersifat non kekerasan. Mereka memanfaatkan instrumen demokrasi untuk mewujudkan cita-cita tersebut.
Pada mulanya, gerakan Ikhwan Hudaybiyah kurang mendapat sambutan. Namun kemenangan partai ikhwan di Aljazair, FIS, menjadii momentum penting jalur tarbiyah, moderat dan parlementarian dapat menemukan efektifitasnya. Model ini kemudian di terima secara luas di beberapa negara, termasuk di Indonesia. Model ini menjadi katup penyelamat penting kala Ikhwan Quthbiyah sedang terpukul di beberapa negara.
Nah, bagaimana masuknya Ikhwanul Muslimin di Indonesia?. Bagaimana dengan PKS?. Di Indonesia, transmisi Ikhwanul Muslimin telah berlangsung pada dekade 1980-an melalui para aktifis Islam yang belajar di Timur Tengah. 2 Tokoh penting yang mengusung jalur ini, pertama adalah Rahmat Abdullah. Kedua Hilmi Aminuddin, yang sekarang menjabat Ketua Majelis Syuro PKS. Jika Muhammadiyah ada Film "Sang Pencerah", NU ada Film "Sang Kiai", PKS filmkan Rahmat Abdullah judul "Sang Murabbi". Hilmi Aminuddin inilah yang mempertemukan paham Ikhwanul Muslimin kepada aktifis Darul Islam (DI). Sehingga dalam perkembangannya terdapat tiga jalur penting yang menyebabkan ikhwan hudaybiyah tumbuh pesat di Indonesia.
Pertama, kelompok "Usroh" di kampus yang merupakan basis gerakan Hilmi Aminuddin bersama aktifis Darul Islam lainnya.
Kedua, alumni Timur Tengah, khususnya yang belajar di Mesir dan Arab Saudi penganut gerakan Ikhwan.
Ketiga, alumni LIPIA terutama dekade 1980an tatkala sebagian dosen LIPIA berasal dari Mesir penganut gerakan Ikhwan. Presiden PKS saat ini Anis Matta dan Gubernur Jabar yang diusung PKS A. Heryawan keduanya juga alumnus dari LIPIA.
Meskipun PKS diprakarsai oleh aktifis Ikwanul Muslimin, namun tidak semua anggota PKS mengikuti Ikhwanul Muslimin. Hanya pada lingkaran inti PKS didominasi oleh para aktifis Ikhwanul Muslimin. Sedangkan sayap tarbiyah dan hanif-nya terdiri dari beraneka latar belakang. Oleh karena itu, kader PKS dapat berasal dari manapun. PKS memiliki cita-cita mendirikan negara Islam ketika memimpin negara, karena ini merupakan cita-cita akhir Ikhwanul Muslimin di negara lainnya. Karena dalam partainya berusaha merangkul anggota dari latar belakang yang berbeda.
Hasan Al-Banna sendiri dulu berusaha mengakomodasi kelompok salafi, kaum tradisional dan kaum pembaharu yang dipengaruhi oleh Muhammad Abduh. Dalam pertemuan internasional para anggota parlemen yang berasal dari Ikhwanul Muslimin di Jakarta pada bulan Februari 2007 telah menetapkan Jakarta sebagai sekretariat gerakan Ikhwanul Muslimin se-dunia. Hal ini menunjukkan bahwa PKS bagian dari Ikhwanul Muslimin. Tanda telah memiliki jaringan internasional yang memiliki tujuan bersama. Nanti dilanjutkan dengan kelompok aliran Salafi Jihadi.
Kelompok Aliran Dalam Islam (2)
Penyebaran Salafi Wahabi di Indonesia
Sebetulnya, terbunuhnya Osama tak berarti matinya ideologi radikalisme/terorisme berdasar Islam. Osama bukan pencipta ideologi radikalisme/terorisme. Sebab ini ideologi yang diciptakan oleh banyak orang dalam rentang waktu yang panjang. Setelah Osama Bin Laden terbunuh, radikalisme/terorisme tidak mati, meskipun memang mengalami penurunan sedikit.
Sekarang ini, kemungkinan pengikut-pengikut Osama mendapat momentum baru setelah kisruh di dunia Arab pasca "Arab Spring". "Jaringan Al-Qaidah mendapat momentum baru (via Jabhat al-Nusrah) di Syria, misalnya. Tergulingnya Presiden Morsi di Mesir mungkin saja memantik elemen-elemen radikal dalam Ikhwan untuk menempuh opsi kekerasan di sana. Taliban sekarang bangkit lagi dan mendeklarasikan perang terhadap pemerintah Pakistan.
Kelompok-kelompok radikal simpatisan al-Qaidah memang selalu diuntungkan jika terjadi kekacauan politik di sebuah negeri Muslim. Konsolidasi demokrasi dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi adalah kunci negeri-negeri Muslim bisa menangkal radikalisme ala al-Qaidah. Di Indonesia, "radikalisme Islam" yang menempuh jalur kekerasan, belum mati. Sampai sekarang masih menjadi masalah keamanan yang tak main-main. Mengutip kata-kata Gusdur: "Islam itu seperti hutan, nampak dari kejauhan sama hijau, tapi bila kita memasukinya ada beragam jenis pepohonan".
Di Indonesia, Makin beragam model gerakan Islam yang masuk. Mereka sendiri terpecah-pecah, lalu memunculkan jenis-jenis aliran baru. Sasaran utama tentu kelompok terbesar, seperti Nahdlatul Ulama (NU). Warga Nahdlatul Ulama perlu mengenali gerakan-gerakan sesama umat Islam yang berbeda dengannya. Bukan karena bermusuhan dengan mereka, namun agar bisa lebih arif dalam menempatkan diri dan menyikapinya.
Kelompok yang masuk dalam kategori Islam mainstream di Indonesia adalah Islam moderat, antara lain: Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan lain-lain.
Sedangkan Gerakan Islam Garis keras terdapat berbagai varian. Ada yang menggunakan jalur parlementer dengan mendirikan partai politik, jalur aksi sosial dan pendidikan, dan aksi kekerasan. Bahkan saat ini gerakan ini, mengembangkan jaringannya menciptakan sejumlah titik di berbagai negara. Termasuk di negara-negara sekuler dan maju.
Ideologi gerakan tidak lagi bertumpu pada konsep demokrasi, melainkan konsep umat. Dalam kerangka ini, wajah ideologi mereka tampak lebih radikal, terutama dalam menghadapi fenomena kapitalisme global. Gerakannya di dominasi oleh corak pemikiran skripturalism, fundamentalism atau radikal. Selain itu, secara parsial mengadaptasi gagasan dan instrumen modern seperti metode perjuangan, partai, IT, serta persenjataan modern.
Saat ini banyak jamaah-jamaah islam bermunculan di indonesia, namun secara makro ada beberapa yang perlu mendapatkan perhatian tersendiri. Yaitu Salafi (dengan variannya), Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Syi'ah dan kelompok Jihadi.
Mari bahas satu-satu secara bertahap, karena banyak pembahasannya, jadi di bagi dalam berbagai 'episode'.
Kita mulai dari Salafi dulu.
Salafi adalah seseorang yang mengikuti manhaj salaf. Manhaj salaf adalah istilah untuk sebuah jalan yang terang dan mudah. Jalan yang di tempuh oleh para generasi Sahabat Rasulullah SAW, Tabi'in dan Tabiut tabi'in dalam memahami ajaran islam.
Orang-orang ini yang mengikuti manhaj salaf (Salafiun) biasa di sebut dengan Ahlussunnah Wal Jamaah, di singkat ASWAJA di karenakan berpegang teguh kepada Al Qur'an dan as-Sunnah. Selain itu di sebut juga ahlul hadits wal atsar dan a-Firqatun najiyah.
Di Indonesia Salafi dan Salafiyah memiliki dua pengertian yang berbeda. Ini penting.
Salafiyah yaitu kelompok, pesantren atau ormas Islam yang kental dengan nilai-nilai tradisional lokal dan klasik. Berpegang pada al-Qur'an dan as-Sunnah serta bermanhaj Ahlussunnah Wal Jamaah. Dalam kelompok inilah selama ini pesantren-pesantren Nahdlatul Ulama dikenal, yang berarti klasik secara manhaji dan metode pengajarannya.
Sedangkan Salafi adalah kelompok, pesantren atau ormas islam yang berpaham Salafi (Wahabi) yang juga berpegang pada al Qur'an dan as-sunnah.
Salafi di Indonesia terdiri dari tiga kelompok. Yaitu Salafi Wahabi Yamani, Salafi Haroki (sururi) dan Salafi Jihadi.
Salafi Wahabi merupakan gerakan pemurnian ajaran Islam kembali kepada Al Qur'an dan Hadits. Yang di prakarsai oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab (1744 M). Gerakan Wahabi ini berkembang secara internasional melalui jaringan ulama-ulama wahabi dan dukungan dana dari kerajaan Saudi Arabia. Pendekatannya tekstual, literal, skripturalis, non politik, anti bid'ah dan khurafat. Kelompok ini dapat dikenali dalam gerakannya yang hanya untuk kepentingan ukhuwah islamiyah dan bukan kepentingan politik.
Persebaran gerakan Salafi Wahabi di indonesia dimulai pada awal dekade 1980-an. Dorongan utamanya adalah berdirinya LIPIA (lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab). di Jakarta Selatan didirikan pada tahun 1400 H/ 1980 M. LIPIA merupakan cabang dari Universitas Imam Muhammad bin Saud Riyadh di Indonesia. LIPIA pertama kali dipimpin oleh Syeikh Abdul Aziz Abdullah al Ammar, murid tokoh ulama Wahabi Syeikh Abdullah bin baz. Seorang saudara yang pernah mengenyam di LIPIA, sering bercerita pengalamannya 'nyantri' di LIPIA. Intinya di LIPIA pelajar di cetak menjadi Salafi Wahabi. Kata-kata semacam 'Thagut' menjadi santapan setiap hari bagi pelajar di LIPIA.
Alumni LIPIA angkatan pertama, kini menjadi tokoh terkemukan dikalangan Salafi. Diantaranya adalah Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas (Pesantren Minhajus sunnah, Bogor). Alumni Generasi pertama LIPIA: Farid Okbah (direktur al irsyad). Ainul Harist (Nida'ul Islam, Surabaya), Abubakar M Altawy (al-Sofwa, Jakarta), Ust. Ja'far Umar Thalib (mantan komandan Laskar Jihad). Adapun nama ketua FPI, Habib Rizieq Shihab, tercatat juga alumni LIPIA. Walaupun tidak menjadi Wahabi. Namun Habib Rizieq tampaknya telah mengadopsi mentalitas Wahabisme. Habib Rizieq menampilkan model Islam konfrontatif terhadap apa yang ia pandang maksiat atau kesesatan. Amar makruf nahi munkar. Sebagaimana ciri umum Salafi, generasi pertama LIPIA tersebut sangat anti kepada kelompok gerakan Islam yang lain seperti HT, IM dll.
Sedangkan Salafi Haroki adalah varian dari Salafi yang terpengaruh paham Ikhwanul Muslimin. Yang menerapkan sistem harakah (pergerakan) atau tandzim (sistem organisasi). Seperti al-Muntada al-Islamy, Ihyaut Turast al-Islamy, Al-Wahda, Darul Birr, Harakah Sunniyah Islamiyah, dan lain sebagainya.
Gerakan Salafi Haroki juga di sebut Salafi Sururi karena tokoh kelompok ini bernama Muhammad Surur bn Nayef (mantan tokoh Ikhwanul Muslimin). Muhammad Surur bin Nayef Zaenal Abidin berasal dari Syria memimpin sebuah Yayasan Al Muntada Islamiyah di London.
Salafi Haroki/Sururi tetap berpegang pada doktrin-doktrin dasar Salafi, namun tidak mengharamkan politik. Tokoh utama gerakan ini sebagian besar adalah oposisi pemerintah kerajaan Saudi Arabia, seperti Muhammad Surur bin Nayef bin Zainal Abidin. Gerakan ini sekarang bermarkas di Inggris dan Kuwait.
Salafi Haroki secara tegas menolak dan menentang modernisasi yang dianggap gagal dalam memperbaiki kehidupan sosial, ekonomi dan politik. Khususnya yang terjadi di negara-negara muslim, bahkan sistem tersebut di pandang menjadi sumber kerusakan moral.
Kelompok Salafi sebenarnya dalam perkembangannya terpecah ke dalam beberapa varian. Sehingga sulit menempatkan satu kelompok menganut satu aliran sepenuhnya. Di Indonesia banyak sekali kalangan Salafi yang mendapat gelar Sururiyah atau yang mempunyai pandangan berbeda dengan Salafi Wahabi. Jadi tidak usah heran kalau kelompok Salafi ini gemar Takfir, karena di kalangan mereka sendiri mereka rentan bersebrangan dan berlawanan. Masih ingat bagaimana konflik Ustadz Jafar Umar Thalib versus Abubakar Ba'asyir. Parah sekali. Belum antar tokoh Salafi yang lainnya. Oleh karena modus pengembangan salafi berbasis pesantren, maka gerakan salafi di Indonesia umumnya bertabrakan langsung dengan warga NU. Bagian Salafi cukup sampai sini, nanti dilanjutkan dengan giliran Ikhwanul Muslimun atau IM (akrab terdengar Ikhwanul Muslimin).
Sebetulnya, terbunuhnya Osama tak berarti matinya ideologi radikalisme/terorisme berdasar Islam. Osama bukan pencipta ideologi radikalisme/terorisme. Sebab ini ideologi yang diciptakan oleh banyak orang dalam rentang waktu yang panjang. Setelah Osama Bin Laden terbunuh, radikalisme/terorisme tidak mati, meskipun memang mengalami penurunan sedikit.
Sekarang ini, kemungkinan pengikut-pengikut Osama mendapat momentum baru setelah kisruh di dunia Arab pasca "Arab Spring". "Jaringan Al-Qaidah mendapat momentum baru (via Jabhat al-Nusrah) di Syria, misalnya. Tergulingnya Presiden Morsi di Mesir mungkin saja memantik elemen-elemen radikal dalam Ikhwan untuk menempuh opsi kekerasan di sana. Taliban sekarang bangkit lagi dan mendeklarasikan perang terhadap pemerintah Pakistan.
Kelompok-kelompok radikal simpatisan al-Qaidah memang selalu diuntungkan jika terjadi kekacauan politik di sebuah negeri Muslim. Konsolidasi demokrasi dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi adalah kunci negeri-negeri Muslim bisa menangkal radikalisme ala al-Qaidah. Di Indonesia, "radikalisme Islam" yang menempuh jalur kekerasan, belum mati. Sampai sekarang masih menjadi masalah keamanan yang tak main-main. Mengutip kata-kata Gusdur: "Islam itu seperti hutan, nampak dari kejauhan sama hijau, tapi bila kita memasukinya ada beragam jenis pepohonan".
Di Indonesia, Makin beragam model gerakan Islam yang masuk. Mereka sendiri terpecah-pecah, lalu memunculkan jenis-jenis aliran baru. Sasaran utama tentu kelompok terbesar, seperti Nahdlatul Ulama (NU). Warga Nahdlatul Ulama perlu mengenali gerakan-gerakan sesama umat Islam yang berbeda dengannya. Bukan karena bermusuhan dengan mereka, namun agar bisa lebih arif dalam menempatkan diri dan menyikapinya.
Kelompok yang masuk dalam kategori Islam mainstream di Indonesia adalah Islam moderat, antara lain: Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan lain-lain.
Sedangkan Gerakan Islam Garis keras terdapat berbagai varian. Ada yang menggunakan jalur parlementer dengan mendirikan partai politik, jalur aksi sosial dan pendidikan, dan aksi kekerasan. Bahkan saat ini gerakan ini, mengembangkan jaringannya menciptakan sejumlah titik di berbagai negara. Termasuk di negara-negara sekuler dan maju.
Ideologi gerakan tidak lagi bertumpu pada konsep demokrasi, melainkan konsep umat. Dalam kerangka ini, wajah ideologi mereka tampak lebih radikal, terutama dalam menghadapi fenomena kapitalisme global. Gerakannya di dominasi oleh corak pemikiran skripturalism, fundamentalism atau radikal. Selain itu, secara parsial mengadaptasi gagasan dan instrumen modern seperti metode perjuangan, partai, IT, serta persenjataan modern.
Saat ini banyak jamaah-jamaah islam bermunculan di indonesia, namun secara makro ada beberapa yang perlu mendapatkan perhatian tersendiri. Yaitu Salafi (dengan variannya), Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Syi'ah dan kelompok Jihadi.
Mari bahas satu-satu secara bertahap, karena banyak pembahasannya, jadi di bagi dalam berbagai 'episode'.
Kita mulai dari Salafi dulu.
Salafi adalah seseorang yang mengikuti manhaj salaf. Manhaj salaf adalah istilah untuk sebuah jalan yang terang dan mudah. Jalan yang di tempuh oleh para generasi Sahabat Rasulullah SAW, Tabi'in dan Tabiut tabi'in dalam memahami ajaran islam.
Orang-orang ini yang mengikuti manhaj salaf (Salafiun) biasa di sebut dengan Ahlussunnah Wal Jamaah, di singkat ASWAJA di karenakan berpegang teguh kepada Al Qur'an dan as-Sunnah. Selain itu di sebut juga ahlul hadits wal atsar dan a-Firqatun najiyah.
Di Indonesia Salafi dan Salafiyah memiliki dua pengertian yang berbeda. Ini penting.
Salafiyah yaitu kelompok, pesantren atau ormas Islam yang kental dengan nilai-nilai tradisional lokal dan klasik. Berpegang pada al-Qur'an dan as-Sunnah serta bermanhaj Ahlussunnah Wal Jamaah. Dalam kelompok inilah selama ini pesantren-pesantren Nahdlatul Ulama dikenal, yang berarti klasik secara manhaji dan metode pengajarannya.
Sedangkan Salafi adalah kelompok, pesantren atau ormas islam yang berpaham Salafi (Wahabi) yang juga berpegang pada al Qur'an dan as-sunnah.
Salafi di Indonesia terdiri dari tiga kelompok. Yaitu Salafi Wahabi Yamani, Salafi Haroki (sururi) dan Salafi Jihadi.
Salafi Wahabi merupakan gerakan pemurnian ajaran Islam kembali kepada Al Qur'an dan Hadits. Yang di prakarsai oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab (1744 M). Gerakan Wahabi ini berkembang secara internasional melalui jaringan ulama-ulama wahabi dan dukungan dana dari kerajaan Saudi Arabia. Pendekatannya tekstual, literal, skripturalis, non politik, anti bid'ah dan khurafat. Kelompok ini dapat dikenali dalam gerakannya yang hanya untuk kepentingan ukhuwah islamiyah dan bukan kepentingan politik.
Persebaran gerakan Salafi Wahabi di indonesia dimulai pada awal dekade 1980-an. Dorongan utamanya adalah berdirinya LIPIA (lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab). di Jakarta Selatan didirikan pada tahun 1400 H/ 1980 M. LIPIA merupakan cabang dari Universitas Imam Muhammad bin Saud Riyadh di Indonesia. LIPIA pertama kali dipimpin oleh Syeikh Abdul Aziz Abdullah al Ammar, murid tokoh ulama Wahabi Syeikh Abdullah bin baz. Seorang saudara yang pernah mengenyam di LIPIA, sering bercerita pengalamannya 'nyantri' di LIPIA. Intinya di LIPIA pelajar di cetak menjadi Salafi Wahabi. Kata-kata semacam 'Thagut' menjadi santapan setiap hari bagi pelajar di LIPIA.
Alumni LIPIA angkatan pertama, kini menjadi tokoh terkemukan dikalangan Salafi. Diantaranya adalah Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas (Pesantren Minhajus sunnah, Bogor). Alumni Generasi pertama LIPIA: Farid Okbah (direktur al irsyad). Ainul Harist (Nida'ul Islam, Surabaya), Abubakar M Altawy (al-Sofwa, Jakarta), Ust. Ja'far Umar Thalib (mantan komandan Laskar Jihad). Adapun nama ketua FPI, Habib Rizieq Shihab, tercatat juga alumni LIPIA. Walaupun tidak menjadi Wahabi. Namun Habib Rizieq tampaknya telah mengadopsi mentalitas Wahabisme. Habib Rizieq menampilkan model Islam konfrontatif terhadap apa yang ia pandang maksiat atau kesesatan. Amar makruf nahi munkar. Sebagaimana ciri umum Salafi, generasi pertama LIPIA tersebut sangat anti kepada kelompok gerakan Islam yang lain seperti HT, IM dll.
Sedangkan Salafi Haroki adalah varian dari Salafi yang terpengaruh paham Ikhwanul Muslimin. Yang menerapkan sistem harakah (pergerakan) atau tandzim (sistem organisasi). Seperti al-Muntada al-Islamy, Ihyaut Turast al-Islamy, Al-Wahda, Darul Birr, Harakah Sunniyah Islamiyah, dan lain sebagainya.
Gerakan Salafi Haroki juga di sebut Salafi Sururi karena tokoh kelompok ini bernama Muhammad Surur bn Nayef (mantan tokoh Ikhwanul Muslimin). Muhammad Surur bin Nayef Zaenal Abidin berasal dari Syria memimpin sebuah Yayasan Al Muntada Islamiyah di London.
Salafi Haroki/Sururi tetap berpegang pada doktrin-doktrin dasar Salafi, namun tidak mengharamkan politik. Tokoh utama gerakan ini sebagian besar adalah oposisi pemerintah kerajaan Saudi Arabia, seperti Muhammad Surur bin Nayef bin Zainal Abidin. Gerakan ini sekarang bermarkas di Inggris dan Kuwait.
Salafi Haroki secara tegas menolak dan menentang modernisasi yang dianggap gagal dalam memperbaiki kehidupan sosial, ekonomi dan politik. Khususnya yang terjadi di negara-negara muslim, bahkan sistem tersebut di pandang menjadi sumber kerusakan moral.
Kelompok Salafi sebenarnya dalam perkembangannya terpecah ke dalam beberapa varian. Sehingga sulit menempatkan satu kelompok menganut satu aliran sepenuhnya. Di Indonesia banyak sekali kalangan Salafi yang mendapat gelar Sururiyah atau yang mempunyai pandangan berbeda dengan Salafi Wahabi. Jadi tidak usah heran kalau kelompok Salafi ini gemar Takfir, karena di kalangan mereka sendiri mereka rentan bersebrangan dan berlawanan. Masih ingat bagaimana konflik Ustadz Jafar Umar Thalib versus Abubakar Ba'asyir. Parah sekali. Belum antar tokoh Salafi yang lainnya. Oleh karena modus pengembangan salafi berbasis pesantren, maka gerakan salafi di Indonesia umumnya bertabrakan langsung dengan warga NU. Bagian Salafi cukup sampai sini, nanti dilanjutkan dengan giliran Ikhwanul Muslimun atau IM (akrab terdengar Ikhwanul Muslimin).
Kelompok Aliran Dalam Islam (1)
Ketika mempelajari Kelompok Aliran Dalam Islam, saya menemukan grafik menarik dibawah ini. Dalam grafik terlihat bahwa pemeluk agama Islam terbagi atas 2 Kelompok Aliran besar yaitu Sunni (80%) dan Syiah (20%). 4 aliran utama Sunni, disebut mahzab, terdiri atas Syafi’i (29%), Hanafi (20%), Maliki (15%) dan Hanbali (15%).
Diluar itu ada kelompok yang disebut Sufi, Khawarij dan Ortodok (aliran Ahmadiah termasuk didalamnya). Pengikut kelompok-kelompok terakhir ini tidak banyak. Pengikut mahzab Syafi’I banyak terdapat di Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia), Maliki banyak di Afrika Utara (Mesir UEA, Kuwait), sedangkan Hanbali banyak di Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh, Afganistan), didalamnya terdapat kelompok aliran Taliban. Pengikut Mahzab Hanbali banyak terdapat di Jazirah Arab (Saudi Arabia, Qatar, UEA), dimana kelompok aliran Wahabi, Salafi, Al Qaeda, ISIS termasuk diantaranya. Menarik untuk dibahas.
Langganan:
Postingan (Atom)
